orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Menyalahkan Itu Mudah, Semudah Mengayunkan Tangan

Menyalahkan Itu Mudah, Semudah Mengayunkan Tangan
"Menyalahkan itu mudah, Bertanggung jawab itu Sulit”. Sebuah realita kehidupan yang harus kita terima dan hadapi. Kebanyakan orang lebih suka menyalahkan sesuatu atau seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Padahal pada dasarnya hal tersebut tidak menyelesaikan permasalahan sama sekali. Justru akan terjadi percekcokan dengan masalah baru yaitu saling tuding, saling tuduh, yang jelas saling mencari pembenaran diri.

Memang paling mudah kita menyalahkan sesuatu semudah mengayunkan tangan. Serasa kita adalah sosok sempurna yang tak mengenal arti “salah” dan “kegagalan” dalam hidup. Seberapa buruk keadaan kita, kita selalu bisa lebih menyalahkan orang, barang, bahkan keadaan/takdir.
Berhentilah Menyalahkan dan mulailah Bertanggung jawab
Apa maksud kata-kata tersebut? Apa dengan kesalahan yang dibuat orang lain, kita cuma bisa pasrah begitu saja? Biar lebih mudah, aku jelaskan dengan sedikit contoh tentang “Sakit Hati”.

Ada banyak orang yang asyik pacaran, masih dalam mencari cinta sejati atau sekedar cinta sesaat dalam proses pencarian cinta sejati atau apalah namanya. Ada kalanya di antara pecinta yang lagi dimabuk asmara ini dilanda yang namanya sakit hati.

Yang namanya sakit hati atau patah hati lebih sakit rasanya ketimbang sakit panu, kadas, maupun sakit kurap. Tapi tentu saja lebih sakit saat sakit gigi ketimbang sakit hati. Tidak percaya?

Karena pada dasarnya yang mengatakan lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati, mungkin saja orang tersebut belum pernah merasakan indahnya sakit gigi.

Jangankan makan sesuatu, dengar sesuatu dengan suara keras saja, bisa saja membuat sakit gigi tambah menjadi-jadi. Makan tidak enak, tidurpun tak nyenyak. Bahkan terkadang nyerinya sakit gigi bisa membuat penderitanya sakit demam.

Kembali ke topik.

Kebanyakan orang ketika sakit hati, lebih suka menyalahkan orang lain dari pada melihat kesalahan pada dirinya.

Misalnya seorang pria sedang sakit hati. Pastinya lebih menyalahkan seorang wanitanya telah berhianat dan mengungkit-ngunkit kembali kesalahan atau kekurangan si wanita ini. Begitupun sebaliknya.

Contoh lain misalnya pria ini menembak si wanita namun ditolak. Padahal menurut si pria ini wanitanya sudah mengasih harapan dengan memberi perhatian, atau memberi kode-kode kalau si wanita juga suka dengan dia.

Tapi disaat ditembak dengan senapan laras panjang, kok malah ditolak. Rasanya tuh seperti jatuh dari ketinggian 5000 meter dan tenggelam di lautan es di antartika Hahaha lebay kayaknya.

Nah dalam hal ini, kenapa harus menyalahkan si wanita? 

Bukannya hak setiap orang untuk mengakhiri hubungan kalau memang tidak nyaman lagi. Atau bukannya hak seorang wanita untuk menolak pria kalau dia tidak suka.

Apakah kitanya mau kalau si wanita hanya pura-pura menerima cinta kita, lantas menelantarkan kita kelak?

Bukannya kita sama saja. Setiap kita juga ingin yang terbaik. Mungkin saja kita yang ditolak maupun yang diputus sepihak adalah seorang pria atau wanita yang bukan dari rencana masa depannya. Apalagi ada yang pasrah dengan mengatakan “mungkin memang sudah takdir saya seperti ini”.

Oke, pasrah akan takdir boleh-boleh saja, tapi setelah sudah pasrah kenapa masih saja bergelut dengan masalah yang sama. Masih galau, sedih karena cinta, dan menjalani hidup dengan sia sia.

Kenapa? Katanya sudah pasrah, kok masih mengharapkan dia yang sudah jelas pergi meninggalkan kita. Yah ikhlasin aja.

Pasrah dengan takdir itu seharusnya ketika kita sudah mempasrahkan , maka langkah yang berikutnya akan menjadi lebih baik dan menjadikan kegagalan yang tadi menjadi keberhasilan yang akan datang.

Menyalahkan Itu Mudah, Semudah Mengayunkan Tangan
Source : unsplash.com
Masalah utamanya itu adalah pada rasa “Sakit hati” itu sendiri. Berhentilah menyalahkan orang. Kembali renungilah jauh lebih dalam ke dalam diri kita sendiri.

Seberapapun kita menyalahkan orang ataupun keadaan, tetap saja sakit hati itu tidak akan terobati. Jadi lebih baik mengurusi bagaimana mengobati rasa sakit itu ketimbang harus ribet dengan mencari-cari kesalahan orang lain.

Jadi kesimpulannya, bukan dengan menyalakan orang, barang atau keadaan. Andai ketika orang sedang patah hati berfikir kalau sakit hati tersebut adalah cara tuhan untuk mengingatkan kita akan kesalahan kita. Atau cara Tuhan untuk menuntun kita kepada cinta yang sejati.

Mungkin kita akan memiliki pandangan lain tentang rasa sakit yang kita derita. Kita akan berhenti menyalahkan orang lain, dan lebih memantaskan diri untuk menyambut hari esok baru, yang semoga lebih baik dari hari yang kemarin.

Apapun yang terjadi kepada kita, baik itu salah kita, salah orang lain ataupun (jika menurut sebagian dari kita) salah takdir, akan sangat salah jika kita tidak melakukan apa-apa. Memang sangat mudah untuk tidak bertanggung-jawab dan hanya berkata

   “oh jelas itu salah dia, Aku tidak salah dong..?"

Atau

   “yah emang aku begini, mau diapain lagi… ya udah laaah…”

Perkataan seperti itulah yang membuat alasan otentik untuk kita menghindar dari tanggung jawab. Namun akan sangat bijaksana bila dengan sesegera mungkin menyadari bahwa kalimat-kalimat seperti itulah yang membuat banyak orang tetap pada kondisi yang mereka tidak inginkan.

Oleh karena itu, apapun yang terjadi, salah siapapun itu, sudah menjadi tugas kita untuk tidak menyalahkan orang lain.

Terlebih lagi kita bisa merenungi setiap masalah yang terjadi adalah sebuah proses pendewasaan diri. Mulailah menghadapi masalah tersebut dengan penuh tanggung jawab untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.
Menyalahkan Itu Mudah, Semudah Mengayunkan Tangan
Stop Blaming and take responsibility starting right now!

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar