orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Dalam Menunggu, Sabar Saja Tidak Cukup

Dalam Menunggu, Sabar Saja Tidak Cukup
Source : unsplash.com
Wah, akhirnya dapat ide menulis juga setelah tiga hari tanpa posting dan tanpa blogwalking.

Kemana saja bang?

Mengistirahatkan badan, pikiran dan handphone dari segala aktifitas wkwkwkwk. Mengistirahatkan badan dan pikiran karena libur panjang yang tak begitu menyenangkan, soalnya dari hari sabtu hingga senin kemarin, hujan tiada henti menghuyur.

Sebenarnya enak juga buat rehat di rumah saja saat hujan seperti itu. Tapi keluarga inginnya jalan-jalan atau mudik ke kampung halaman istri untuk sekedar silaturohmi. Dan pada akhirnya kita mudik di tengah hujan yang menghuyur minggu pagi.

Alhamdulillah di tengah perjalanan itu aku mendapat ide untuk artikel ini. Emang ide tuh paling demen muncul saat lagi di perjalanan maupun saat hujan.

Ceritanya gini, di tengah kehujanan dan keadaan yang cukup macet. Aku mencoba bersabar untuk berjalan ke depan seiring dengan arus jalanan tersebut. Aku berkendara di pinggiran jalan, aku bersabar menunggu mobil di depan jalan, dan sesekali melihat ke kiri jalan, tepatnya di jalan trotoar selebar 1 meter dengan batuan kerikil dan genangan air.

Mungkin karena tidak sabar, pengendara lain yang ada dibelakangku mencoba menyalip dengan berjalan melewati jalanan trotoar yang penuh batu kerikil tersebut. Terlihat dia berjalan begitu lambat karena kerikil dan lubang yang cukup dalam, sehingga sulit untuk dilalui oleh kendaran roda dua.

Belum beberapa meter pengendara yang menyalip dari pandanganku, tiba-tiba mobil di depanku berjalan. Akhirnya aku juga ikut menjalankan sepeda motorku. Jalannya lumayan jauh sehingga aku kembali menyalip kendaran yang melewati trotoar berbatu. 

Aku pandangi pengendara itu yang kesulitan kembali ke jalanan aspal dan masih berkutat di trotoar tersebut dengan berjalan cukup lambat.

Aku tersenyum puas melihat pemandangan tersebut. Bukan berarti aku suka menertawakan penderitaan orang lain. Namun lebih kepada aku menikmati manisnya buah dari kesabaranku untuk menunggu mobil yang berada di depanku berjalan. 

Aku sabar menunggu, tanpa harus menyalip melewati trotoar yang jelas jalanannya tidak begitu layak untuk dilewati. Hasilnya, aku jauh melaju lebih cepat ketimbang yang menyalip duluan melewati batas jalanan tersebut.

Selang beberapa meter, kembali kemacetan menghentikan laju kendaraanku. Kembali aku toleh arah sebelah kiriku. Berbeda dari yang tadi, trotoar kiri jalan di depanku hanya pasir yang cukup padat, tak ada genangan air dan kerikil besar yang bisa menahan laju sepeda motorku. 

Kali ini aku tidak memutuskan untuk sabar menunggu. Kali ini aku mencoba menyalip dari sisi kiri menuju ke trotoar tersebut.

Alhamdulillah, trotoar yang aku lewati cukup nyaman saat dilewati oleh roda dua. Hasilnya aku melaju lebih cepat di tengah kemacetan dan bisa kembali ke jalan aspal yang cukup senggang untuk terus melaju mulus hingga tujuan.

Dalam Menunggu, Sabar Saja Tidak Cukup
Source : unsplash.com
Dari pengalaman tersebut, aku mendapat ide untuk membuat artikel ini. Bahwa menunggu itu tak cukup hanya butuh kesabaran saja.

Menunggu itu perlu, seperti disaat menunggu jodoh yang datang. Perlu kesabaran dan keyakinan bahwa akan ada sosok pangeran yang akan menjemput ke sebuah pelaminan.

Tak perlu harus melewati jalan berbatu nan terjal hanya untuk mempercepat jodoh yang datang. Bukankah kalau jodoh itu tak akan kemana? Mengapa harus buru-buru kalau hanya menyisahkan luka!

Begitupun juga, menunggu juga tak cukup hanya dengan sabar saja. Seperti halnya dengan menunggu kepastian seorang lelaki, kesabaran itu ada batasnya bukan? Jika memang terlalu lama, kenapa harus terus menunggu dengan sabar? Iya kalau yang ditunggu itu pada akhirnya menepati janjinya dengan indah. Kalau tidak?

Menunggu itu harus dengan kesabaran yang bijaksana.

Ada kalanya kita harus menunggu dengan sabar, tapi kita juga harus tegas kapan kita harus berhenti untuk bersabar dan mencari jalan lain yang lebih nyaman.

Yuk menunggu dengan indah.... ^_^

#Menuju Bahagia dan Melampauinya
Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar