orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Repotnya Hidup di Zaman Serba Cepat

Repotnya Hidup di Zaman Serba Cepat
Source : unsplash.com
Di dunia yang serba cepat seperti zaman sekarang, yang lambat akan ditinggalkan oleh penggunanya. Perkembangan teknologi yang makin canggih, sehingga melahirkan perangkat yang bernama depan “smart” yang sangat berimbas pada aspek kehidupan masyarakat.

Dengan satu perangkat dalam genggaman, bisa menghemat melakukan beberapa hal, misalnya saja cari baju pesta.

Dulu untuk mencari baju, masyarakat harus rela memutari pusat perbelanjaan untuk mendapat baju yang pas untuknya. Dengan berdesak-desakan, cari harga yang cocok, serta nego yang cukup panjang dari toko satu ke toko yang lainnya.

Sekarang? Cukup tiduran di dalam kamar sambil buka pusat perbelanjaan (marketplace) di smartphone, scrool ke bawah sampai ketemu baju yang cocok dengan harga yang pas di kantong. Tinggal bayar melalui pembayaran digital, barang sampai dalam hitungan jam (kalau tempatnya dekat).

Perkembangan teknologi jelas memudahkan penggunanya, namun terkadang teknologi juga menyusahkan. Orang zaman sekarang itu maunya serba cepat dan tidak mau ribet. Mentang-mentang ada teknologi, semuanya minta lebih cepat. Dan hal seperti itu yang sering aku alami selama jadi Driver ojek online.

Misalnya saat dapat orderan GoRide. Seperti biasa, mengucapkan salam adalah hal yang selalu aku lakukan saat pertama kali chat. Kemudian menanyakan apakah lokasinya sesuai seperti di map atau kalau membelikan makanan aku konfirmasi pesanannya sesuai atau tidak.

Namun tidak sedikit juga aku mendapatkan pelanggan yang sudah terbiasa hidup “di zaman serba cepat”. Belum mengawali salam, sudah di chat duluan, isinya juga mencengangkan.
Bisa cepat tidak pak?
Pak, tolong lebih cepat yah, aku terlambat nih?
Kadang aku kesal mendapat pelanggan seperti ini. Kalau tidak ingin terlambat, kenapa tidak pesan 20 menit yang lalu. Kalau jarak jemputnya dekat sih fine-fine aja, lah kalau jauh, bagaimana?

Repotnya Hidup di Zaman Serba Cepat
Source : unsplash.com
Sistem ojek online juga berubah. Kalau dulu, siapa yang dekat dia yang dapat. Lah sekarang? Terkadang ada yang jarak driver cukup dekat, kurang dari 1km dari pelanggan malah tidak dapat orderan, justru driver dengan jarak lebih dari 2 km dari pelanggan yang dapat orderannya.

Karena sistem terbaru itulah aku sering dapat pelanggan GoRide yang lumayan jauh jaraknya dengan lokasiku berada. Banyak sih yang sabar menanti, namun tak sedikit juga yang mintanya buru-buru.

Udah ngebut di jalan agar sampai di lokasi penjemputan lebih cepat, eh masih dikatain “kok lama sih pak?”.

Ada juga yang suruh cepat-cepat, saat sampai lokasi, kok malah masih disuruh nunggu, nunggunya lama lagi. Soalnya pelanggannya masih belum nyisir rambut sama pakai kerudung. Kesel nggak tuh?

Yang paling mengesalkan adalah disaat membelikan makanan ke resto yang bekerja sama dengan ojek online. Keterlambatan mengantar pesanan sebenarnya tidak sepenuhnya salah driver. Sebab lama tidaknya membelikan makanan itu tergantung seberapa cepat pelayanan di resto tersebut.

Nah ini, karena lamanya resto menyiapkan pesanan, malah berimbas pada drivernya, yang ujung-ujungnya driver dapat bad coment masalah keterlambatan. Kan kasihan driver ojek online nya juga.

Ok lah, teknologi memang dapat mempermudah dan mempercepat suatu pekerjaan. Namun tak semua pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat hanya karena adanya teknologi.

Apa mau pelanggan menerima makanan yang belum matang karena pelanggan minta cepat-cepat? Enggak kan?

Terlepas dari untung dan ruginya hidup di masyarakat serba cepat karena teknologi. Yang jelas teknologi memang sangat mempermudah dan mempercepat sebuah pekerjaan. Namun yang harus digaris bawahi adalah sebijak apa kita memakai dan memaknai teknologi ini?

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar