orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Perihal Cita-cita dan Masa Lalu

Perihal Cita-cita dan Masa Lalu
Cita-citaku tidak berada di masa depan, cita-citaku hanya ada di masa lalu
Quote by Sasuke Uchiha
Pernah aku berfikir demikian, bahwa cita-citaku tidak berada di masa depan, cita-citaku hanya ada di masa lalu. Cita-cita yang selalu menempel dalam benak masa kecilku yang sangat lugu dan polos, kini sudah hilang termakan oleh getirnya kehidupan.

Aku dan sasuke jelas tidak sama. Sasuke adalah seorang anggota klan uchiha yang terkenal dengan kekuatan matanya namun dia sangat membenci kehidupannya. Hidupnya terlalu pahit untuk dijalani terutama saat semua keluarga dan anggota klannya dibunuh oleh kakaknya sendiri.

Mungkin benar kalau cita-cita Sasuke hanya ada di masa lalu. Masa di mana dia hidup bahagia dengan keluarganya sebelum tragedi mengenaskan itu terjadi. Dan tidak salah kalau dia berkata demikian.

Nah sedangkan diriku, kenapa harus berfikir demikian?

Aku tidak sepopuler Sasuke diha, aku juga tidak pernah mengalami nasib seburuk sasuke, bahkan aku bahagia dengan keluargaku. Jadi tidak ada alasan bahwa aku harus kehilangan tentang cita-cita di masa depan, bukan?

Pada kenyataanya, cita-citaku selalu berubah dari masa ke masa. Sejak kecil aku sangat ingin sekali menjadi seorang guru ketika dewasa nanti. Pernah juga berfikiran untuk jadi pilot setelah membaca buku di perpustakaan tentang BJ Habibie.

Cita-cita seperti itu justru luntur ketika aku menyukai sepak bola menginjak bangku SMP. Bahkan di SMA, yang aku inginkan hanya untuk lulus lebih cepat dan bisa bekerja. Aku sudah membuang semua angan-angan tentang cita-cita lugu masa kecilku itu.

Aku sedikit memahami bahwa butuh semangat dan memeras keringat lebih untuk bisa menyekolahkanku lebih tinggi. Sementara Orang tuaku sudah tidak muda lagi, bahkan sering sakit menjelang akhir pendidikan SMA ku.

Maka aku putuskan bahwa “cita-citaku adalah untuk membahagiakan orang tuaku”. Namun pada kenyataannya, cita-cita seperti itu adalah hal yang salah.

Aku baru menyadari bahwa cita-cita seperti itu bukanlah sebuah cita-cita yang benar. Tanpa harus bercita-cita seperti itu, membahagiakan orang tua adalah sebuah kewajiban kita sebagai anak.

Aku juga menyadari bahwa cita-cita adalah tujuan hidup, planning masa depan dan harapan terbesar kita untuk masa depan. Karena aku yakin ketika hidup tanpa adanya tujuan, kita akan merasa tidak ada gairah hidup, yang sama artinya dengan mati.

Dengan adanya tujuan itulah membuat hidup kita lebih baik lagi. Karena tak mungkin juga ada orang berkeinginan untuk menjadi lebih buruk.

Kalaupun cita-cita atau arah hidup berubah, itu adalah hal yang wajar. Tidak mungkin kita terus terhanyut terus menerus dalam mimpi masa kecil yang bahagia dengan segala cita-cita yang ada.

Jika aku gagal, maka aku akan kembali dari awal, ataupun mencari tujuan baru untuk tempat mengantungkan asa tuk tetap berjuang.

Terkadang apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tidak ada yang salah dengan cita-cita, cita-cita akan selalu ada dan berubah-ubah selama keinginan masih ada.

Dan aku menyadari bahwa aku masih punya banyak cita-cita. Selagi aku masih mempunyai keinginan tak ada salahnya untuk berharap untuk menggapainya. 

Namun seandainya aku masih belum bisa menggapainya. Maka sudah saatnya aku berharap untuk menyerahkan dan mempercayakannya pada generasi berikutnya. Seperti hal nya hogake ketiga yang menyerahkan impiannya ke generasi berikutnya.

Bagiku, cita-citaku akan selalu ada baik di masa lalu maupun di masa depan. Baik itu tentangku, tentang kamu maupun tentang anak-anak kita. Kalianlah cita-cita dan tujuan hidupku yang sebenarnya, baik di masa lalu, sekarang dan di masa depan nantinya.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar