orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Antara Teman, Rekan Dan Jabatan

Antara Teman, Rekan Dan Jabatan
Source : unsplash.com
Tidak terasa loh, umurku makin menua aja. 23 hari lagi, aku fix 12 tahun memegang erat status sebagai karyawan di perusahaan tempatku bekerja sekarang.

Banyak teman yang silih berganti menemani canda gurau di tempat ini. Meskipun cuma sebentar, namun sangat melekat dalam ingatan bahwa kita pernah bersama dalam suka maupun duka.

Tidak hanya teman saja yang meninggalkanku di sini. Mantan pacar, gebetan, teman tapi mesra, teman tapi sering dolan dan typikal teman lainnya juga satu demi satu meninggalkanku. Bahkan musuh bebuyutan juga ikutan say good bye.

Sedih rasanya ditinggalkan, bahkan ditinggalkan musuh bebuyutan juga membuatku terkadang merasa kehilangan. Ada yang kurang kalau tidak ada yang ngajak berantem, apalagi mendebatkan prinsip kita masing-masing yang sebenarnya mungkin tak bisa sejalan.

Meskipun ada yang berganti tahun demi tahun, namun ada juga yang masih membersamaiku hingga sekarang.

Meskipun banyak yang sudah tidak di sini sekarang, mereka yang pergi masih aku simpan dalam kenangan berjudul “Teman seperjuangan”.

Antara Teman, Rekan dan Jabatan?

Antara Teman, Rekan Dan Jabatan
Source : unsplash.com
Definisi teman menurutku adalah seseorang atau lebih yang menemani dan membersamai kita dalam berbagai keadaan. Meskipun definisi teman bisa beraneka ragam tergantung dari bagaimana kita memandang. Misalnya saja teman hidup yang bisa berarti pasangan.

Namun teman yang aku maksud adalah seseorang yang sering hadir dalam hidup kita. Seseorang yang membuat kita merasa bebas dan nyaman untuk bercerita tentang berbagai hal, baik itu suka maupun duka. Bahkan terkadang hal privasipun kita bisa bagi dengannya.

Berbeda dengan rekan. Definisi rekan menurutku lebih menjurus pada bidang pekerjaan. Rekan juga bisa diartikan teman namun hubungan pertemanan kita terhubung karena keterikatan kita dalam suatu instansi atau perusahaan yang sama

Sebenarnya teman dan rekan juga tidak jauh beda menurutku. Disaat kondisi bekerja, aku menyebutnya sebagai rekan atau partner kerja. Namun disaat kita sudah di luar perusahaan, kita adalah teman.

Bedanya lagi, jika pada mode “rekan”, yang kita bicarakan tak jauh-jauh dari perbincangan soal pekerjaan. Namun disaat mode “teman”, kita bisa ngomongin mantan hingga bini orang #eh, hahahaha becanda loh gaes

Terus, apa hubungannya dengan jabatan? Di poin inilah yang memaksaku menuliskan artikel kali ini.

Sudah 12 tahun aku bekerja di perusahaan ini dan 12 tahun pula aku mengenal teman sekaligus rekan kerjaku ini. Bagiku, dia adalah seorang senior yang sangat aku hormati. Meskipun kalau dihitung dari masa kerja, aku unggul 2 bulan lebih lama dari pada dia.

Namun pada kenyataannya, dia merupakan kakak kelasku sewaktu di SMK. Berada di jurusan yang sama, namun pengalaman dan wawasan dia tentang dunia komputer jauh melebihi yang aku pahami saat bersekolah dulu.

Bukan karena dia bersekolah lebih dulu yang membuat dia lebih unggul, namun memang kecerdasan dan keuletan dia yang luar biasa, terutama kalau menyangkut dunia komputer.

Poin penting lainnya adalah dia sangat menikmati hal-hal yang berbau komputer, sedangkan aku saat bersekolah dulu hanya cuma ingin cepat lulus biar langsung kerja. Mungkin karena alasan tersebut, aku tidak begitu menguasai apa yang diajarkan di sekolahan dulu.

Awalnya kita sama-sama bekerja di bagian produksi, bahkan selalu satu shift yang sama. Suka duka kita lewati bersama, dari dimarahin leader, ngakalin leader, memberikan tutor pada karyawan baru. Bahkan dulu kita pernah naksir cewek yang sama juga loh?

Meskipun kita sama-sama bersaing dalam merebut hati si cewek ini, namun tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiran bahwa kita adalah saingan bahkan jadi musuh sekalipun. Dan pada akhirnya, kita juga sama-sama menjauh dari si cewek ini juga, dan menemukan wanita yang pantas jadi pasangan hidup masing-masing.

Di beberapa tahun kemudian, temanku ini naik jabatan sebagai IT di perusahaan sedangkan aku naik jabatan menjadi admin produksi sekaligus backup di mesin produksi kalau ada salah satu bagian yang tidak masuk kerja.

Mungkin sekitar 7 tahun aku dan temanku berada di posisi itu. Kita makin sering akrab saja karena tempat kerjanya berada dalam satu ruangan yang sama (sebelahan meja).

Hingga akhirnya 3 bulan yang lalu, dia menjadi kandidat terkuat menjadi kepala produksi selanjutnya. Selain memang mempunyai pandangan yang luas, kemampuan memahami man power serta skill mengolah data yang mumpuni.

Dia seorang yang mudah akrab dengan siapapun, bahkan seluruh karyawan pasti mengenal dia dengan baik. Berbeda denganku yang dasarnya pemalu dan introvert.

Dan di posisi inilah yang semakin membuat aku semakin kagum kepadanya.

Antara Teman, Rekan Dan Jabatan
Source : unsplash.com
Di tengah pandemi COVID-19, sebenarnya perusahaanku masih terus produksi dengan normal. Toh gak mungkin juga kalau perusahaan menengah bisa meliburkan karyawannya sembari membayar penuh gaji karyawan selama di rumah.

Pemerintah aja gak sangup, apalagi perusahaan kelas teri macam ini.

Namun karena perusahaanku juga merupakan anak cabang yang bahan materialnya (bahan baku) juga berasal dari perusahaan pusat. Akhirnya disaat perusahan pusat lockdown, kita juga ikutan lockdown dong?

Di tengah isu lockdown dan diliburkan inilah polemik dan isu-isu merebak hingga ke telingaku. Mulai dari “apakah gaji tetap dibayarkan selama liburan” ataupun “apakah lockdown ini akan berdampak samapai lebaran”. Semua itu menyatu dengan sangat seru untuk aku nantikan kelanjutannya.

Waktu istirahat merupakan cara yang asik untuk ngobrolin isu-isu hangat yang bertebaran. Biasanya sih kita membahas order maupun problem yang sedang terjadi di produksi. Karena aku juga seorang admin, jadi teman ngobrolku juga orang-orang yang punya jabatan di perusahaan. \

Dan asiknya lagi, orang-orang yang punya jabatan juga seumuran denganku, jadi formal banget deh kalau kita sedang ngobrol.

Di tengah isu lockdown, aku mendapati curhatan temanku perihal isu-isu yang sedang terjadi di produksi. Salutnya tuh, saat temanku menjelaskan dengan sudut pandangnya, bukan sudut pandang pemimpin yang arogan dan masa bodoh dengan bawahannya. Namun dia lebih menyerahkan apa yang terjadi pada bagian yang berwenang.

Mau itu lockdown, gaji dibayar full selama liburan atau pandangan lain yang mungkin bisa terjadi ke depannya. Dia tidak ingin ikut campur dan menambah isu semakin berkembang.

Aku senang melihat temanku ini. Meskipun sudah naik jabatan, namun pemikirannya masih sangat murni dari hati. Mungkin pengalamannya pernah merangkak dari bawah itulah yang membuat dia lebih bijaksana.

Aku jadi makin betah berada di perusahaan ini. Padahal 1 tahun belakangan aku mulai jenuh dengan pekerjaanku dengan kepemimpinan kepala produksi sebelumnya.

Yah semoga aku bisa bantu temanku ini sebaik-baiknya. Setidaknya aku ingin berusaha meringankan beban berat yang sekarang ditanggungnya sebagai seorang teman, seorang rekan dan seorang bawahannya.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya
Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar