orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Tak Perlu Iri, Setiap Kita Memiliki Peran Masing-masing Bagi Kehidupan

Setiap Kita Memiliki Peran Masing-masing Bagi Kehidupan
Source : unsplash.com
Aku dulu merupakan typikal orang yang tidak peduli dengan urusan orang lain, selama mereka tidak mengangguku, aku akan baik-baik saja. Entah mereka hidup sebagai malaikat maupun penjahat di depanku, pokoknya mereka tidak menggangguku, aku tak peduli.

Disisi lain, aku sangat suka mempelajari karakter orang lain. Menurutku, dengan mengerti karakter mereka, aku bisa menjadi teman baik bagi mereka. Mungkin karena hal tersebut, aku sering memberi penilaian tentang karakter orang lain hanya berdasar sudut pandang pribadi.

Memberi penilaian itu bukan berarti aku menggunjing dan ngegosip tentang orang lain, penilaian atas orang lain ini hanya sebatas apa yang aku pikirkan tentang orang tersebut. 

Karena kelihaianku menilai orang lain inilah, sering kali aku meremehkan kemampuan orang lain. Padahal aku tak tau sedikitpun tentang orang tersebut.

Seperti saat dulu, aku beranggapan bahwa banyak anak yang broken home lebih sering merusak diri sendiri untuk meluapkan kekecewaannya. Dan aku sedikit meremehkan atas sikap mereka sebagai tindakan bodoh dan childish banget.

Namun pada akhirnya aku sadar bahwa berada dalam lingkungan seperti itu, ternyata memang tidak semudah yang aku bayangkan. Bukan masalah iman dan keyakinannya yang lemah yang membuat mereka jadi seperti itu, namun ini perihal rasa yang tidak semua orang bisa kuat menghadapi kenyataan yang terjadi.

Sama halnya saat berkunjung ke rumah duka, ada keluarga yang menangis sekencang-kencangnya menangisi kepergian salah satu keluarganya. Namun ada juga yang tegar dan tetap “slow” dengan keadaan seperti itu.

Dulu aku sering beranggapan bahwa orang yang sedang meratapi kematian seseorang dengan tangisan itu cengeng banget. Sering aku mencibir dalam hati “kenapa tidak diikhlasin saja sih, bukankah hidup ini sudah suratan, takdir kematian seseorang kan sudah pasti?”.

Namun pada akhirnya aku mulai mengerti bahwa ditinggal seseorang yang sangat dekat dengan kita itu memang berat. Meskipun kita mencoba untuk bahagia, namun rasanya kehilangan itu tidak memudar begitu saja. ketika kita mulai teringat, rasa sakit itu masih terasa sama seperti saat pertama kali kehilangannya.

Bukankah Kita Hidup Sudah Diberikan Peran Masing-Masing?

Setiap Kita Memiliki Peran Masing-masing Bagi Kehidupan
Source : unsplash.com
Jangan salahkan hujan telah membasahi tubuh kita, jangan salahkan matahari yang teriknya cukup menyengat, dan jangan salahkan malam yang membuat kita tidak bisa bergerak bebas karena kegelapan.

Tidak ada yang patut disalahkan, tidak ada yang patut dikeluhkan dan tidak ada yang patut untuk dibandingkan. Setiap makhluk di dunia ini memiliki tugas dan peran masing-masing.

Akhir-akhir ini aku menyadari bahwa setiap kita mengemban peran sendiri-sendiri atas kehidupan kita masing-masing. Baik dan keburukan seseorang, seharusnya tak perlu kita ikut campur di dalamnya, apalagi menjudge bahwa orang tersebut buruk bagi kita.

Seperti prasangkaku terhadap seseorang yang aku rasa sangat menyebalkan, bahkan dulu aku terheran-heran, kenapa ada orang semenyebalkan dia. Sering sekali aku memberontak dan hampir memusuhi dia secara diam-diam.

Namun pada akhirnya, setelah kenal lebih lama. Aku sadar dia adalah wanita karier yang sudah mempunyai 2 anak, yang tiap hari berangkat pagi-pagi dengan menyiapkan semua kebutuhan keluarganya. Kebetulan suaminya agak gimana gitu, kurang kompeten menurutku.

Aku mulai paham bahwa sikapnya selama ini mungkin dipicu oleh beban yang selama ini dia pikul. Mau tidak mau, beban tersebut mempengaruhi sikapnya. Terkadang biasa saja, namun terkadang jadi sangat menyebalkan dan cerewetnya minta ampun.

Mungkin memang benar bahwa setiap kejadian pasti ada alasannya. Maka dari itu, sedikit demi sedikit, aku akan berusaha untuk tidak semudah itu memberi penilaian terhadap seseorang.

Bukankah kita sedang berjuang? Berjuang menjalani peran masing-masing sebagai makhluk Tuhan.

Iri Yang Tak Lagi Perlu, Karena...

Setiap Kita Memiliki Peran Masing-masing Bagi Kehidupan
Source : unsplash.com
Faktanya, kita memang makhluk yang sangat mudah merasakan iri dan minder akan diri sendiri. Seakan orang disekitar kita diselimuti oleh kesempurnaan, sedangkan kita mulai membanding-bandingkan serta mendambakan kesempurnaan seperti itu.

Bukankah hal seperti itu sering terjadi pada diri kita? aku sih iya, terkadang sih, hehehehe #membela diri

Namun pernahkah kita menyadari bahwa yang terlihat sempurna di mata kita, belum tentu itu sesempurna yang kita bayangkan. Misalnya saja melihat seseorang yang mempunyai pekerjaan yang mapan dengan gaji yang lumayan besar.

Kita tidak pernah tahu hidup orang lain. Terlalu dini menilai dia yang hidupnya terlihat sempurna dengan gaji yang besar pasti lebih bahagia. Padahal banyak sekali tekanan-tekanan dalam pekerjaannya. Dia sering tidur larut malam, makan tidak teratur dan sering stres dengan rutinitasnya.

Bahkan dia sebenarnya sangat iri dengan kehidupan kita sekarang. Meskipun gaji pas-pasan, namun pekerjaan itu dilakukan atas dasar passion. Sedangkan dia ingin sekali mengikuti passionnya, namun dia tidak punya nyali untuk mencobanya.

Jadi berhentilah untuk membandingkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di mata kita. Karena level bahagia seseorang tidak bisa dinilai hanya dengan melihat dia tertawa.

Setiap kondisi mempunyai peran yang berbeda-beda. Jika si kaya beramal dengan hartanya, maka si miskin pun bisa beramal dengan kesabaran dan keikhlasan menjalani kehidupannya.

Sebuah peran yang saat ini kita jalani, tidak dimaksudkan agar kita merasa lebih baik dari peran yang lain. Sebagaimana bulan yang tak pernah iri kepada matahari, karena setiap kejadian mempunyai peran masing-masing bagi kehidupan.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar