orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Hal Yang Kurasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung

Hal Yang Kurasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung
Source : traverse.id
Kemarin kan sudah cerita bagaimana rasanya pertama kali naik pesawat terbang. Nah sekarang waktunya menceritakan tentang bagaimana perasaanku sewaktu tiba dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Lampung.

Kalau dihitung-hitung, aku baru 3 kali ini meninggalkan pulau di mana aku dilahirkan. Yang pertama adalah Bali Island sewaktu SMP, Madura saat ziarah ke makam para Wali dan terakhir ke Sai Bumi Ruwai Jurai beberapa minggu yang lalu.

Namun kalau dihitung dari lamanya tinggal di suatu pulau, di Lampung inilah persinggahan terlamaku meninggalkan pulau kelahiran. Dulu pernah sih ke Indramayu sampai 2 minggu, tapi kan Indramayu masih satu kepulauan.

Ke Lampung ini sebenarnya aku hanya menemani seorang teman yang ingin mengurus suatu di Lampung. Kebetulan beliau tidak diizinkan pergi kalau sendirian. Akhirnya beliau mengajakku dengan menjanjikan free biaya perjalanan dan akomodasi selama di sana.

Yah mau lah aku, hahaha. Naik pesawat gitu loh. Kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini.

Sesampai di Lampung, banyak hal yang begitu asing menurutku. Bahkan banyak hal yang mengejutkan yang terjadi selama perjalanan ini.

Ada suka maupun duka. Dukanya sih lebih memberatkan pada perasaan emosionalku sendiri. Wajar dong, yang selama ini ada yang menemani di sisi, kemudian jarak memisahkan kita.

Jadi ceritanya aku baper dan merasakan lagi bagaimana rasanya rindu dan jablay lagi, hahaha.

Ok kembali ke topik.

Seperti halnya mencoba hal baru, tentu banyak cerita yang mengundang banyak tanya dan rasa penasaran. Begitupun saat di Lampung, ada banyak perbedaan yang aku alami saat di sana.

Lampung Terasa Lebih Sepi

Hal Yang Kurasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung
Source : unsplash.com
Mungkin hanya perasaanku yang sedang jauh dari istri, seakan akan aku melihat keadaan Lampung itu begitu “Sepi”.

Sewaktu aku mendarat di Lampung ba’da Maghrib dan keadaannya memang sedang gerimis. Selama perjalanan dari Bandara hingga Sukadana, aku tidak banyak melihat keramaian yang biasa aku lihat di desaku.

Aku sempat berpikir apakah di Lampung diberlakukan PSBB seketat di Surabaya ataupun Jakarta. Aku rasa bukan karena itu, toh Surabaya yang katanya ketat masalah PSBB juga tetap ramai di jam segitu.

Bahkan di kota Metro sekalipun, tak terlihat banyak mobil lalu lalang selayaknya kota besar. Ah mungkin waktu itu sedang deras-derasnya hujan, jadi tak banyak yang keluar rumah di cuaca seperti itu.

Hal serupa juga aku rasakan sewaktu sudah beberapa hari di Sukadana. Mungkin yang aku singgahi memang sebuah desa, namun aku melihat kesunyian dalam desa ini.

Tak banyak anak kecil yang bermain bersama, tak banyak warga yang berkerumun entah saling curhat maupun saling ngosipin yang sedang tren di desa itu.

Sewaktu aku keluar untuk beli makanpun, jalanannya terasa sangat sunyi. Entah itu karena lampu jalan yang tak terlihat atau karena tidak banyak orang yang keluar saat malam.

Berbeda dengan di desaku, kalau sudah maghrib jalanan malah rame, apalagi malam minggu. Jalanan sampai macet karena banyaknya orang yang keluar rumah, entah sekedar cari makan, nongkrong, maupun sekedar jalan-jalan.

Entahlah, mungkin aku terlalu membandingkan dengan tempatku yang terbiasa banyak anak kecil main ramai-ramai di sekitar rumah. Ataupun jalanan yang terbiasa ramai mengingat desaku juga terletak antara dua kota besar, Surabaya dan Malang.

Ternyata Bahasa Sehari-Hari di Lampung Banyak Yang Pakai Bahasa Jawa

Hal Yang Kurasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung
Source : unsplash.com
Sewaktu aku berjumpa dengan tuan rumah, aku menggunakan bahasa pemersatu, yakni Bahasa Indonesia biar obrolannya nyambung. Soalnya aku taunya dulu sewaktu di group Obrolin, si Gita yang asli orang Lampung tidak paham dengan bahasa jawa.

Namun dalam perjalanan di mobil menuju Sukadana, justru aku kaget saat dia (tuan rumah) mengerti bahasa Jawa yang aku lontarkan kepada temanku.

Aku kira semua orang Lampung menggunakan bahasa Lampung. Atau setidaknya ada sebagian tempat yang dekat dengan pulau Jawa, menggunakan bahasa Sunda.

Eh ternyata, di Sukadana justru menggunakan bahasa Jawa. Malah fasih sekali mirip logatnya orang Tulung Agung maupun Kediri. Akhirnya obrolan kita selama seminggu di sana yah pakai bahasa Jawa.

Rasa Martabak Yang Benar-Benar Beda

Rasa Martabak Yang Benar-Benar Beda
Source : grid.id
Penjual martabak kalau di tempatku selalu menjual dengan berbagai variant isi. Ada yang pakai daging ayam, daging sapi, double telur ayam, telur bebek dan lain sebagainya.

Kalau di Lampung malah beda, martabaknya terasa manis dengan variant isi keju, susu, cokelat dan topping manis lainnya.

Ada yang aneh tidak?

Ternyata bagi masyarakat Lampung, nama “martabak” itu sama artinya dengan “terang bulan” di tempatku. Sedangkan martabak yang aku maksud adalah makanan dari bahan telur yang diberi isian daging di dalamnya. Dan itu tidak tersedia di Lampung.

Wah sebenarnya bisnis martabak ini cocok dikembangkan di Lampung. Toh belum ada saingannya di sini. Kalau di tempatku, penjual martabak selalu bergandengan dengan menu terang bulan.

Lampung Ternyata Sama Panasnya Dengan Kotaku

Hal Yang Kurasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung
Source : unsplash.com
Aku kira pulau Sumatra akan terasa lebih sejuk, mengingat banyak bukit dan pegunungan di sana. Namun setelah seminggu berada di sana, aku putuskan bahwa panasnya Lampung sebangsa dengan Surabaya dan sekitarnya.

Untuk airnya sendiri cukup segar sama seperti air di tempatku. Namun aku heran kalau sudah Subuh, udaranya cukup menusuk. Bahkan aku berkali-kali mengigil walaupun cuma wudhu saja.

Berbanding terbalik saat siang hari, keringatku bercucuran. Bahkan aku merasa cuaca di Sukadana ini lebih “sumuk” dari pada di tempat aku. Bahkan hingga malam pun terkadang aku merasa kegerahan.

Yah beruntung di tiga hari terakhir, hujan deras menghuyur Lampung tiap siang hari. Jadi tiga hari terakhir udara di sana terasa lebih sejuk dari pada 5 hari sebelumnya.

Kecewa Karena Tidak Bisa Jalan-jalan di Lampung

Hal Yang Kurasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung
Source : unsplash.com
Sebenarnya urusan temanku itu hanya butuh 5 hari, namun aku harus nunggu sampai 8 hari di sana dikarenakan tuan rumah belum gajian.

Apa hubungannya dengan gajian?

Ada dong ! kan yang membiayai perjalanan pulang juga tuan rumah. Akhirnya kita menunggu tiga hari lagi agar bisa pulang ke Jawa.

Selama 3 hari tersebut, sebenarnya aku ingin mengajak tuan rumah jalan-jalan. Yah setidaknya pengen lihat Lampung itu seperti apa.

Namun sangat disayangkan bahwa si tuan rumah ini kurang peka. Diam di rumah saja itu menjenuhkan, apalagi sampai tiga hari tanpa melakukan kesibukan yang lainnya.

Namun pada hari terakhir aku baru tau alasannya. Alasannya karena motornya belum ada STNK nya. Entah karena masalah apa, jadwal keluar STNK nya harus nunggu sampai 6 bulan begitupun dengan plat kendaran bermotornya.

Jadi selama di Lampung, aku hanya jalan-jalan ke pasar Tridatu dan pasar Way Jepara untuk beli makanan maupun beli keperluan lainnya. Padahal aku ingin berkunjung ke Way Kambas atau wisata lainnya di lampung.

Tapi ya sudahlah, toh memang tujuan kita ke sana memang bukan untuk berlibur.

Sampai Pulangpun Aku Tidak Bisa Menikmati Pemandangan Lampung Dan Berfoto di Sana

Hal Yang Kurasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung
Source : unsplash.com
Rencana awal aku dan temanku adalah pulang menggunakan travel dari Lampung sampai Jakarta, kemudian lanjut menggunakan Bus malam sampai di Surabaya.

Tujuannya sih agar bisa menikmati Lampung sewaktu perjalanan pulang. Kan kalau pakai travel, berangkatnya pagi sekali sedangkan jadwal bus Malamnya itu sekitar jam 5 sore. Jadi perkiraan tidak sampai ketinggalan Bus setibanya di Jakarta.

Bayanganku juga ingin membeli oleh-oleh khas Lampung saat perjalanan pulang ataupun sekedar foto di tempat yang sedang trendi di Lampung. Aku tuh pengen banget berfoto dekat menara siger di Bakauheni.

Namun perencanaan hanya sekedar perencanaan. Pada akhirnya aku dan temanku sudah dibelikan tikel bus lintas pulau. Aku hanya nunggu di terminal perhentian di sukadana dan diantar sampai ke Surabaya.

Dan bagusnya lagi jam keberangkatan dari Sukadana itu ba’da Maghrib. Pada akhirnya aku tidak bisa berfoto dekat menara siger, bahkan melihat menaranya pun aku tak bisa. Karena aku sampai di Bakauheni sekitar pukul 9 malam.

Akhirnya aku hanya punya foto saat merindukan istri di tempat tuan rumah dan satu foto lagi saat berada di atas kapal ferry menuju Tanjung Merak.

Selamat tinggal Lampung, semoga di lain waktu aku mendapat undangan lagi ke sana. Yah kalau bisa Gratis lagi, hehehe.

Yah setidaknya banyak pengalaman yang aku dapat selama perjalanan ini. Kalaupun aku pergi ke sana lagi, InsyaAllah aku tidak akan bingung bagaimana cara menuju ke sana maupun bagaimana caranya pulang.

#Menuju Bahagia Dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar