orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Untuk Masa Lalu, Terima Kasih Untuk Semua Luka Yang Kau Beri

Untuk Masa Lalu, Terima Kasih Untuk Semua Luka Yang Kau Beri
Source : unsplash.com
Terkadang kita harus berterima kasih atas luka di masa lalu, agar kita bisa maju dan mencari bahagia dengan cara yang baru
Gila...! Mungkin 10 tahun yang lalu, aku tidak pernah sudi mendengar saran seperti itu. Bagaimana tidak? Jika seseorang menghianati kita, menusuk kita dari belakang, kemudian menghina kita di depan orang banyak. So, yakin kalian akan diam begitu saja? Apalagi disuruh mengucapkan terima kasih gitu?

Hellooowww! Emangnya hati ini terbuat dari remahan rengginang apa?

Tentu hal yang paling mungkin aku pikirkan adalah dengan membencinya dan memusuhinya. Entah dengan mengumpat dan memakinya meskipun dalam hati. Atau yang paling ekstreem adalah dengan melakukan pembalasan yang setimpal kepada mereka yang pernah menyakiti kita.

Namun semua itu tidak aku lakukan.

Sakit hati itu manusiawi banget. Jika kita memusuhi dan membencinya, aku kira itu wajar. Luka karena sayatan yang dalam, bisa saja sembuh dengan hitungan hari. Tapi luka hati yang dalam? Yakin bisa hilang dalam seminggu?

Seringkali aku mengalami hal demikian. Disaat hati ingin memaafkan dan merelakan perbuatan mereka kepada kita, namun disaat berjumpa, emosi dan bayangan luka itu membekas sangat pekat di pikiran. Yang niatnya sudah memafkan, tiba-tiba keinginan untuk membenci timbul kembali.

Apalagi jika disaat orang yang melukai itu tidak pernah sadar akan tusukan yang dia buat pada diri kita. Dengan sok suci dia bercanda di depan kita seakan-akan semua luka itu tidak pernah terjadi.

Kadang disitulah pikiran jahat yang aku miliki memutar sebuah rencana busuk untuk menjatuhkan mereka di tebing yang paling dalam. Tentu agar mereka semua bisa menghilang dari peradapan.

Tapi dari semua itu, kita adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kita diberi hati, nafsu, emosi dan akal, untuk bisa memilih jalan ninja kita sendiri. Kita boleh memilih untuk membenci mereka bahkan membalas mereka, namun apakah dengan membalas mereka, kita akan puas?

Yakin dengan melakukan perbuatan seperti yang mereka lakukan (menyakiti) membuat kalian jadi bahagia? Apa tidak sayang status kita “turun” dari orang yang baik menjadi orang yang jahat.

Lagi pula kita tidak pernah tau sebaik apa kita. Bisa saja tanpa kita sadari, kita pernah menyakiti orang lain. Entah karena perkataan kita atau perbuatan kita, sengaja atau tidak sengaja.

Haruskah Kita Berterima Kasih Pada Luka di Masa Lalu?

Haruskah Kita Berterima Kasih Pada Luka di Masa Lalu?
Source : unsplash.com
Setelah tumbuh lebih mendewasa dari pada 10 tahun silam, aku menyadari bahwa semua luka adalah anugerah terindah yang pernah aku miliki. Mungkin aku gila dan tidak waras, namun kenyataannya luka itu adalah penolong dan pengingat bahwa aku adalah manusia yang hina.

Rasa sakit yang aku rasa, tak sebanding dengan pelajaran berharga yang aku dapatkan. Mungkin perihal mereka yang pernah menyakiti kita dan menghianati kita. Aku tahu bagaimana rasa sakitnya, ketika kita berharap banyak pada seseorang, kemudian seseorang itu mematahkannya dengan begitu saja.

Aku menyadari bahwa aku yang salah, mungkin memang benar bahwa berharap pada sesama manusia itu tidaklah benar adanya. Dan aku sering melakukan hal tersebut pada beberapa orang. “memberi harapan, kemudian mematahkannya

Mungkin ini semacam pembalasan dari apa yang pernah aku lakukan. Bukan berarti aku salah, tiap orang mempunyai alasan untuk membenarkan teorinya. Dan aku tidak menyalahkan dia yang pernah menghianati dan menyakiti, karena dia berhak memilih.

Pernah aku membenci, namun pada akhirnya kebencian itu adalah drama yang aku buat-buat sendiri. Kebencian itu hanya berkutat pada diri sendiri dan mengerogoti kebahagian yang aku jalani.

Toh, sebenarnya dia tak pernah membenci, hanya dia merelakan kita pergi untuk kebahagiannya sendiri.

Egois? Aku rasa tidak juga.

Setiap kita memang ingin bahagia, entah itu dengan mengajak yang lainnya turut bahagia atau dengan menyakiti mereka. Bukankah setiap pemenang kontes akan menyakiti peserta kontes lainnya? Mungkin seperti itulah kehidupan.

Rasa sakit itu ada pada diri sendiri, bukan tentang orang lain. Ketika kita tidak menganggapnya sakit, maka kita tak akan pernah merasakan sakit. Ah ini berat....!

Sesungguhnya Rasa Sakit Itu Mengajarkan Banyak Hal

Sesungguhnya Rasa Sakit Itu Mengajarkan Banyak Hal
Source : unsplash.com
Sebenarnya setiap ujian hidup, selalu memberi pelajaran berharga bagi kita. Tinggal kitanya saja mau menerima dan mencari hidayah dibalik ujian hidup atau tetap membuat bak drama seakan-akan dunia ini tak memihak kepada kita.

Bentar...! kita kan tidak pernah tahu, kesulitan hidup itu datang sebagai ujian, cobaan atau adzab. Nah loh?

Anggap saja rasa sakit yang kita rasa ini adalah ujian hidup, biar lebih enteng. Yang namanya ujian kan ada masa lulusnya, benar kan?

Rasa sakit itu sebenarnya mengajarkan kita banyak hal, antara lain :

#1. Pengalaman Rasa Yang Berharga

Kita tidak akan pernah tahu pahitnya kopi kalau belum menyeduhnya sendiri. Pengalaman adalah hal yang tidak bisa dipelajari secara teori, apalagi ini perihal rasa.

Kadang aku kesal mendengar beberapa wanita yang curhat masalah cowok. Misalmya saja mereka membicarakan dan menyimpulkan kalau cowok si “A” tidak pantas untuk dijadikan pacar. Yang alasannya hanya karena “katanya” dan melihat dari sudut pandang cewek yang pernah putus dengannya.

Ini kan tidak adil banget, bisa saja putusnya hubungan ini dikarenakan ketidakcocokan antara keduanya. Kemudian desas-dusus dibicarakan dari mulut orang ke orang hingga akhirnya timbul isu dan berbagai fitnah serta dugaan-dugaan ngawur.

Rasa sakit juga sama, setiap kita tidak akan mampu memahami rasa sakit yang diderita orang lain. Dengan memahami rasa sakit diri sendiri, kita akan belajar untuk tidak menyakiti orang lain. Karena kita tahu sendiri beratnya menyembuhkan rasa sakit di hati.

#2. Guru Yang Terbaik

Mungkin kita tidak bisa membenarkan orang yang pernah menyakiti kita, namun kita juga tidak mempunyai hak untuk menyalahkannya. Kenapa? Bukankah sudah jelas kalau mereka yang salah?

Bagaimana kalau rasa sakit ini adalah pelajaran yang memang dikhusukan untuk kita. Bagaimana kalau melalui tangan orang yang menyakiti kita, Tuhan memberi peringatan serta hidayah yang sebenarnya.

Nah loh..

Jadi terimalah rasa sakit itu. Jadikan rasa sakit ini adalah pelajaran serta guru terbaik untuk kehidupan kita. Dengan pernah merasakan rasa sakit, tentu dalam benak kita akan menghindari drama yang akan membuat rasa sakit yang sama berulang.

#3. Menemukan Rumus Bahagiamu Sendiri

Untuk Masa Lalu, Terima Kasih Untuk Semua Luka Yang Kau Beri
Source : unsplash.com
Jika di sekolah mengajarkan tentang rumus matematika dan rumus fisika, rasa sakit mengajarkanmu tentang rumus bahagia.

Setiap orang pasti ingin bahagia dan untuk membuat bahagia itu sangat sederhana sebenarnya. Namun orang tak akan mengerti arti bahagia jika tidak pernah merasakan kecewa, sedih dan sakit sebelumnya.

Seperti pengalamanku, anggap saja aku memang PHP (pemberi harapan palsu), namun semua itu aku lakukan demi memilih yang terbaik. Aku tak memberi janji setinggi langit, mungkin sedikit perhatian yang mungkin membuat mereka jadi berharap.

Dan ironisnya, semua itu kembali ke diriku pribadi, dimana aku yang menjadi pecundang yang berharap bulan jatuh dipangkuan. Dan disitulah sakitnya dimulai.

Pernah merasakan sakitnya ditolak, sakitnya dihina, sakitnya ditusuk dari belakang bahkan dari depan pula. Pernah juga merasakan masakan padang terasa hambar hingga malas makan, juga merasakan alam seakan menangis bersama hujan.

Namun setelah itu, aku belajar bagaimana untuk bangkit dari keterpurukan. Bagaimana mengatasi rasa sakit yang kurasakan, bagaimana memaafkan itu tidak semudah membalikkan tempe di penggorengan. Dan aku belajar bagaimana menghadapi masa suram itu dengan kedewasaan.

Dan aku bersyukur, dengan adanya rasa sakit itu membentuk diriku menjadi seperti sekarang.

Tidak sebaik yang kalian bayangkan, namun aku sedikit memahami bahwa rasa sakit adalah kunci rumus bahagia yang sebenarnya. Kita tak akan benar-benar memahami makna bahagia sebelum kita terjun dalam rasa sakit sebelumnya.


So, sudah siap memafkan dan berterima kasih pada masa lalu?

#Menuju Bahagia dan Melampauinya
Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar