orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Apa Arti Kedewasaan Yang Sebenarnya

Apa Arti Kedewasaan Yang Sebenarnya

Beberapa waktu yang lalu selintas aku mendengar orang-orang memperdebatkan perihal kedewasaan. Ada yang menghubungkan dewasa dengan pertambahan usia, ada pula yang berpendapat bahwa usia bukanlah sebuah ukuran dalam menentukan kedewasaan seseorang.
Tua itu pasti, dewasa itu pilihan
Secara hukum yang berlaku di Indonesia, usia dewasa dimulai dari umur 18 tahun. Karena kalau belum mencapai 18 tahun belum bisa buat KTP bukan? Dengan kata lain, sebelum punya KTP bisa dikatakan masih anak-anak atau remaja.

Namun jika dilihat dari sudut pengertian ‘DEWASA’ itu sendiri, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dewasa adalah mencapai usia akil baligh, yakni bukan anak-anak ataupun remaja lagi.

Sedangkan menurut islam, seseorang laki-laki ataupun wanita dikatakan dewasa atau baligh apabila seseorang tersebut sudah mengalami haid bagi wanita dan mimpi basah bagi laki-laki. Tentu saja masa seseorang untuk mencapai akil baligh berbeda satu dengan lainnya.

Dewasa berarti matang. Baik matang secara biologis, maupun secara psikis. Sehingga bisa dikatakan tidak perlu menunggu tua untuk menjadi dewasa. Karena kedewasaan tidak selalu beriringan dengan bertambahnya usia.

Secara umum, seorang dapat dikatakan dewasa apabila ia telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jelek (atau benar salahnya sesuatu). Namun dalam Islam, seorang dewasa adalah yang telah mampu memilih dan memilah serta mengkategorikan mana yang perintah dan mana yang larangan Allah.

Mungkin secara Islam perintah dan larangan itu mutlak adanya, tapi mengenahi baik dan buruk, itu lain ceritanya. Terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu menurut orang lain itu baik juga. Begitupun dengan apa yang kita yakini dewasa belum tentu juga menurut orang lain itu dewasa.

Lantas, apa sih makna dewasa sebenarnya?

Entahlah. Sampai sekarangpun aku masih belajar untuk menjadi dewasa. Karena menjadi dewasa itu butuh masa transisi yang panjang, perlu ilmu, ada latihan, dan sebagainya.

Katanya ada banyak cara menjadi dewasa. Kadang begitu mudah semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembarnya. Bahkan ada yang lebih mudah lagi seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain.

Tapi tidak jarang juga kita harus menempuh jalan yang berat untuk menjadi dewasa. Kita mesti melewati sungai fitnah yang deras, harus membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar. Bahkan kita harus penuh luka terlebih dahulu sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa. Ada yang berhasil, namun banyak pula yang gugur di tengah jalan.”

Ya realitanya untuk menjadi dewasa itu tidaklah mudah. Mungkin beberapa langkah ini bisa jadi inspirasi dalam menjadi lebih dewasa.

#1. Menjadi Dewasa Dengan Banyak Belajar

Apa Arti Kedewasaan Yang Sebenarnya
Source : unsplash.com

Tidak ada istilah tua untuk belajar. Untuk menjadi dewasa pun kita buth mempelajari banyak hal, misalnya terkait dengan segala topik yang mampu mengarahkan kita mencapai kedewasaan. Contohnya topik birrul walidain.

Di sini kita banyak belajar bahwa mentaati dan menghormati orang tua tentu ada tata caranya pula. Sikap merajuk yang sering kita tampakkan pada orangtua ternyata berdampak psikologis pada diri kita dan pada orangtua juga.

Namun perlu aku tekankan bahwa belajar tidak mesti dengan banyak baca buku saja. Selagi banyak jalan menuju Roma tentu banyak peluang yang kita bisa manfaatkan sebagai media belajar.

Misalnya saja tentang pengalaman hidup pribadi, pengalaman hidup orang lain bahkan kejadian yang terjadi pada kita bisa kita ambil hikmah untuk menjadikan diri kita lebih dewasa.

#2. Menjadi Dewasa Dengan Bercermin Pada Diri Sendiri


Di sini aku bukannya mengajak kalian untuk terus menatapi diri di depan cermin tentunya. Tapi bercermin tentang diri kita, tentang apa yang telah kita lakukan, tentang sifat-sifat kita yang harus diperbaiki, dan sebagainya.

Dengan memahami diri sendiri kita akan mengerti segala kekurangan pada diri kita. Terlebih kurangnya kita dalam berhubungan kepada Rabb. Karena sebaik-baiknya diri kita adalah ketika kita merasa sebagai hamba yang merasa rendah kepada RabbNya.

#3. Menjadi Dewasa Dengan Latihan

Apa Arti Kedewasaan Yang Sebenarnya
Source : unsplash.com

Kita tidak cuma perlu latihan kebugaran fisik atau angkat besi untuk menjadi dewasa. Kita juga perlu banyak, banyak, dan lebih banyak waktu untuk berlatih di setiap perubahan (hijarah) diri kita.

Di antaranya dengan melatih kesabaran, melatih diri agar bisa bijak menyikapi keadaan dan berlatih tidak malas melakukan kebaikan. Salah satunya dengan memaksa diri untuk tidak malas-malasan dalam beribadah.

Bahkan tak dipungkiri lagi bahwa kebanyakan orang perlu “teguran sayang” terlebih dahulu untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang dewasa. Allah yang selalu menyayangi kita, sehingga Dia tentu punya banyak cara untuk menegur kita agar kita tidak jauh-jauh dariNya.

Duuuhhh! Allah romantis banget yaaa. Aku jadi teringat sabda Rasulullah “Sesungguhnya Allah SWT adalah yang Maha Pencemburunya.”

Karena itulah aku ingin mengingatkan kembali bahwa sesungguhnya setiap “teguran” yang datang kepada kita bukanlah pertanda bahwa Allah ingin menyengsarakan kita. Bisa jadi kejadian itu merupakan pertanda bahwa kita sudah mulai menjauh dariNya.

Atau mungkin dengan cara begitu Allah sedang menguji kita untuk menjadi khalifah yang lebih dewasa dari sebelumnya, dan sebagainya. Tentunya, carilah sejuta alasan agar kita tetap berbaik sangka kepada Allah SWT.

Sesungguhnya Allah mempunyai cara yang luar biasa dalam menentukan siapa yang sudah saatnya mencapai baligh atau tidak. Oleh karenanya, jangan merasa lagi menjadi anak kecil kalau kita sudah mencapai baligh. Sadari kita adalah orang dewasa yang harus bersikap dewasa.

Dewasa adalah pilihan. Bukan tidak mungkin seseorang yang dipandang secara fisik telah dewasa tapi psikologisnya belum dewasa. Dia belum bisa berpikir jauh kedepan, gampang terpengaruh dengan orang lain, tidak mandiri, masih suka bertengkar karena keegoisannya, dan lain sebagainya

Bisa saja kita memilih untuk tidak dewasa. Walaupun secara bilogis kita sudah disebut dewasa. Tapi kalau cara berpikir kita tidak dewasa, itu sama artinya kita memilih untuk tidak menjadi dewasa.

Ketika Allah telah memilih kita pantas menjadi dewasa, maka berusaha lah menjadi dewasa. Amati alur kehidupan ini, dan berpikirlah. Jangan sampai merugi karena kita termasuk golongan orang-orang yang tidak berpikir.

Kesimpulannya, Dewasa adalah pilihan. Berusaha menjadi dewasa seiring putaran masa atau bertahan dalam kekanakan dengan wajah kita yang kian menua.

Semoga kita lebih memahami arti kedewasaan yang sesungguhnya. Amin.

#Menuju Bahagia Dan Melampainya


Referensi :
http://tulistulus.wordpress.com/2009/02/06/seperti-apa-arti-kedewasaan-yang-sebenarnya
http://safruddin.wordpress.com/2007/06/16/saat-harus-menjadi-dewasa

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar