orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Ketika Rindu di Kala Jarak Memisah

Ketika Rindu di Kala Jarak Memisah
Source : unsplash.com
Akhirnya aku merasakan sendiri bagaimana beratnya cinta yang terhalang jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Rasa sayang dan rindu yang tak kunjung terpenuhi, meyeruak masuk ke dalam kalbu.

Kata orang “Long Distance Is Killing Me”, sekarang aku mulai menyetujui pernyataan tersebut.

Dulu aku hanya mengira-ngira bahwa hubungan jarak jauh itu tidaklah terlalu sulit untuk dijalani. Mengingat bahwa teknologi sekarang bisa membuat yang jauh seakan menjadi dekat.

Namun setelah mengalaminya sendiri selama seminggu, ternyata begini yah beratnya hubungan jarak jauh itu.

Dulu sekitar tahun 2017, aku pernah kok merasakan hubungan jarak jauh seperti ini. Malah aku di sana menginap selama dua minggu. Bahkan aku cukup bahagia kok selama di Indramayu dan tidak merasakan rindu seberat ini saat di Lampung.

Namun kenapa rasanya kali ini sungguh berbeda yah?

Apakah karena kadar rasa sayang dan cintaku semakin tinggi dari pada dua tahun yang lalu?

Mungkin waktu di Indramayu dulu, aku tidaklah sendiri. Banyak teman satu perusahaan yang sama-sama berada satu kontrakan yang sama. Ditambah lagi orang Indramayunya sendiri juga cukup welcome dengan hadirnya kami di sana.

Di Lampung juga sama sih. Tuan rumah juga sangat welcome dan sangatlah akrab denganku. Aku juga bersama teman yang sudah aku anggap sebagai kakak dan aku sangat menghormati beliau.

Mungkin bedanya adalah waktu luang dan kesendirian.

Jika di Indramayu, waktu luangku cukup sedikit. 8 jam aku habiskan untuk training karyawan baru di sana dan sisanya masih ditemani dengan teman-teman lainnya di kontrakan.

Kalau di Lampung memang sedikit lebih banyak waktu sendiri sih. Di saat temanku sedang ngobrol via telephone, sedangkan aku hanya bisa menghela nafas panjang.

Aku dan istri adalah typikal orang yang jarang pegang HP apalagi kalau sudah di rumah. Jadi saat aku chat istri, bisa satu sampai tiga jam baru di balas. Saat dibalaspun aku sedang sibuk di sana dan baru lihat setelah beberapa jam.

Sebenarnya di Indramayu juga sama sih. Intinya komunikasi kita melalui telepon juga tidak selalu mulus.

Terus mengapa saat di Lampung rasa rindu ini begitu menggebu-gebu?

Mungkin Lampung memiliki magic yang sangat unik.

Ketika Jarak Yang Tiba-Tiba Memaksa Untuk Merindu lebih Dalam

Ketika Rindu di Kala Jarak Memisah
Source : unsplash.com
Tau tidak apa yang bisa membuat kalian merindukan sesuatu?

Menurutku adalah moment itu sendiri.

Dibilang saat di Indramayu aku tidak terlalu merindu itu tidak sepenuhnya benar. Aku sempat kok hampir meneteskan air mata saat melihat anak kecil umur 2 tahunan yang berjalan melewatiku saat berada dalam kereta.

Melihat anak kecil itu serentak hati ini mengingat anakku yang masih sangat lucu-lucunya. Begitupun saat di Lampung, aku juga melihat anak tuan rumah yang sering rebutan antara si kakak dan adiknya. Aku jadi inagt bahwa kedua anakku juga melakukan itu saat di rumah.

Bagaimana dengan rindu dengan istri?

Berbeda saat di Indramayu, entah kenapa rasa rindu kepada istri begitu terasa sangat dalam. Bahkan aku merasa seperti saat pacaran (tunangan) dulu. Ada getaran yang menginginkan untuk terus bertemu.

Hal ini semakin dalam ketika rencana awal hanya 3 hari, malah mundur sampai satu minggu. Fix dua hari terakhir perasaanku sangatlah melow dan penuh drama.

Ketika Video Call Tak Mampu Menghilangkan Rasa Rindu

Ketika Rindu di Kala Jarak Memisah
Source : unsplash.com
Melihat temanku yang sering video call-an dengan istrinya, aku jadi ingin ikut-ikutan biar rasa rindu ini bisa berkurang. Namun apa daya bahwa tidak hanya jarak saja yang memisahkan kita, namun waktu juga sangat sulit untuk bisa selaras.

Alasan utama kenapa aku dan istri jarang sekali memakai gadget adalah karena anakku yang paling kecil suka sekali merebutnya.

Jadi disaat video call-an mulai dari istri, orang tua hingga anak pertama yang berlangsung lama. Namun disaat giliran anak terakhir, video call-an hanya berlangsung sekejap. Baru ngobrol sebentar, langsung ditutup panggilannya.

Anakku yang paling kecil ini paling tidak suka yang namanya video call. Padahal si kecil inilah yang membuatku makin rindu dengan tingkahnya.

Bahkan Komunikasi Melalui Teknologi Malah Bikin Suasana Semakin Buruk

Ketika Rindu di Kala Jarak Memisah
Source : unsplash.com
Hal yang paling tak terhindarkan dalam hubungan jarak jauh adalah masalah kesalahpahaman. Yah setidaknya begitulah yang aku alami selama seminggu di Lampung.

Banyak hal sih yang membuat aku dan istri jadi salah paham. Mungkin bagi orang lain masalah kita hanyalah masalah sepele. Namun juga tidak, jika masalah ini dihadapi saat berada dalam hubungan jarak jauh seperti ini.

Ketika rasa sayang tak mampu menundukkan emosi sesaat dan pelukan hangat tak bisa tersampaikan melalui suara maupun video call. Di situlah ujian dari hubungan jarak jauh itu dimulai.

Mungkin benar kalau masalah hati dan rasa percaya masih bisa diusahakan. Setidaknya bisa dilakukan dengan mengenggam erat-erat rasa cinta masing-masing pada pasangan. Jadi ujian seperti perselingkuhan dan semacamnya itu tidak akan terjadi.

Namun yang lebih berat dari pada itu adalah masalah kenyamanan hati pasangan.

Misalnya istri lagi capek-capeknya mengurusi pekerjaan rumah, kemudian terbebani masalah lain yang membuat semakin capek. Belum lagi dia sedang PMS yang bikin emosinya meninggi.

Disaat itulah suami harus bisa jadi penenang atau setidaknya memberi kenyamanan yang bisa menghilangkan beban di pikrian istri.

Komunikasi adalah kunci dari kenyamanan ini.

Nah kalau pasangan suami istri ini berada dalam hubungan jarak jauh bagaimana memupuk rasa nyaman?

Di situlah problemnya.

Aku sendiri juga masih belum menemukan rumus yang pas dalam mengatasi problematika ini. Hal itulah yang membuat hatiku galau di dua hari terakhir saat di Lampung. Dan aku kapok dan tidak ingin melakukan hubungan jarak jauh lagi, hehehe.

Berat Cuy....

Aku salut dengan mereka yang bisa memanage rasa nyaman saat menjalani hubungan jarak jauh semacam ini.

Bukan hubungan yang tanpa masalah yah, semua hubungan pasti ada aja masalahnya. Namun apapun masalah saat berhubungan jarak jauh, mereka masih bisa mengatasinya dan tetap berbahagia.

Eh bentar! Yang aku maksud hubungan jarak jauh ini levelnya dalam tingkatan sudah nikah yah, kalau masih pacaran mah, sama aja dengan jomblo kali, hahahaha.

Yah Sejatinya Rindu Hanya Bisa Terobati Ketika Sudah Bertemu

Ketika Rindu di Kala Jarak Memisah
Source : unsplash.com
Jika ada yang tanya “Apa obat dari rasa rindu?” Maka aku akan jawab sekarang juga. Obatnya adalah bertemu.

Namun taukah kalian cara jitu menumbuhkan rasa sayang dan rindu kepada pasangan? Kalau kalian mau tau, jawabnya adalah jarak dan waktu.

Aku sangat bersyukur sekali dengan adanya perjalanan ke Lampung kali ini. Tidak hanya karena bisa merasakan pengalaman naik pesawat terbang untuk pertama kalinya. Ataupun karena bisa melihat Lampung dari dekat.

Namun dengan perjalanan kali ini aku banyak belajar bahwa perkataan Dilan tentang “rindu itu berat“ memang benar adanya.

Selain itu, menjalani hubungan jarak jauh juga bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Cinta itu butuh kenyamanan. Namun bagiku, kenyamanan akan sangat sulit dilakukan ketika jarak yang memisahkan.

Kesimpulannya:

Jangan rindu... itu berat, biar Dilan saja.

Kita cukup bahagia dengan cara kita, jangan tiru Dilan. OK

#Menuju Bahagia dan Melampauinya
Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar