orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Bagaimana Menjawab Pertanyaan Kritis Anak Tentang Allah

Bagaimana Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Allah
Source : unsplash.com
Pernah tidak, kalian mendapat pertanyaan sederhana namun kritis dari anak ataupun adik-adik kita yang masih berumur di bawah 5 tahun?

Pertanyaannya semacam “Haid itu apa?”, “Manusia diciptakan dari apa?”, “Allah itu di mana?” dan sebagainya.

Aku tidak ingat apakah aku menanyakan hal demikian pada orang tuaku sewaktu masih kecil dulu. Yang jelas beberapa hari yang lalu, Anakku yang pertama sangat gencar menanyakan pertanyaan kritis semacam itu kepadaku.

Pertanyaannya semacam ini :

“Allah itu dimana yah?”

“Kenapa kita tidak bisa melihat Allah?”

“Terus manusia diciptakan dari apa?” dan sebagainya.

Dalam fasenya, anak-anak memang suka melontarkan pertanyaan yang sederhana namun kritis bagi kita (orang dewasa) untuk menjawabnya. Mereka memang dalam fase pertumbuhan dan mulai belajar memahami berbagai pemahaman yang dia dapat melalui visual, pendengaran dan hal-hal yang menarik bagi mereka.

Namun sebagai orang tua yang merupakan madrasah pertama anak, kita sebaiknya menjawab dengan sangat hati-hati dan sekiranya mudah dipahami oleh anak-anak kita. Memang tidak mudah menjelaskan kepada mereka, sebab cara berpikir mereka juga tidak sama seperti kita.

Tapi banyak juga orang tua yang justru memarahi anaknya lantaran pertanyaan tersebut. Tak jarang juga yang tidak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan itu sehingga anak-anak jadi semakin penasaran.

Jika sikap kita seperti itu, bisa jadi anak-anak akan mencari jawaban dari orang lain yang belum tentu itu benar. Dan bisa juga akan mengurangi rasa percaya yang dimiliki anak kepada orang tuanya.

Terus bagaimana kita menjawabnya?

Untuk menjawab pertanyaan kritis anak memang dibutuhkan ilmu dan wawasan yang luas. Orang tua perlu banyak membaca dan belajar pendidikan yang berkaitan dengan tarbiyatul aulad.

Aku sendiri juga bukan seorang yang memiliki kedua itu. Aku bukan lulusan pondok dan aku juga tidak begitu banyak membaca buku-buku tentang keagamaan. Namun kuncinya adalah tetap menjawab dan memperhatikan si anak dengan menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak dengan cara yang sederhana.

Kita cukup menjawabnya dengan jujur sesuai kebisaan dan pemahaman kita. Tak perlu menjawab dengan istilah-istilah yang tidak bisa dimengerti anak yang mungkin saja dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya.

Misalnya saja pertanyaan tentang haid. Pertama-tama kita jabarkan saja tentang proses dewasa atau istilah kerennya baligh. Misalnya :

Jika suatu hari kakak sudah besar, nanti kakak akan mengalaminya sendiri. Disaat haid itu sudah datang, kakak tidak boleh sholat. Mama juga mengalami hal demikian, makanya mama tidak sholat”

Ataupun tentang bagaimana bayi dilahirkan :

Kakak kan tahu sendiri saat adik dilahirkan, Adik berada di perutnya mama. Dari perut mama buncitnya masih kecil hingga perutnya mama makin besar. Kakak kan juga tahu kalau adik suka nendang-nendang sewaktu di perut mama. Disaat sudah waktunya, nanti adik keluar dari rahimnya mama dan jadilah adik bayi seperti sekarang”.

Bagaimana Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Allah
Source : unsplash.com
Yang paling sulit memang pertanyaan perihal Allah, misalnya tentang “Allah itu dimana?”. Aku sendiri awalnya juga kebingungan mau jawab apa. Namun ini adalah moment untuk memberi tahu anak tentang keyakinan dia terhadap Tuhan-Nya.

Allah itu ada di mana-mana kak, Allah kan Maha Besar

Jadi Allah itu besar ya yah! Terus kenapa aku tidak bisa lihat

Allah itu tidak sama dengan makhluk-Nya, seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Allah itu yang menciptakan alam semesta ini bukan? Jadi Allah tidak berada dalam ruangan seperti kita, Karena Allah yang menciptakan alam semesta ini, jadi Allah tidak memerlukan tempat seperti dunia kita ini”

“Jadi dimana Allah yah? Apakah Allah itu ada di surga”

“Allah itu ada di sini (tunjuk dada). Allah itu ada di hati kita. Surga itu tempatnya makhluk yang baik kayak kakak. Jadi kalau kakak sudah besar dan jadi orang baik, nanti di tempatkan di Surga. Sedangkan Allah tidak butuh tempat seperti surga, kan Surga juga ciptaannya Allah sama seperti kita dan dunia ini”

“lah terus di mana yah (sambil pegang dadanya)”

“Coba bernafas (sambil memperagakan bernafas), Apa yang kakak rasakan?”

“Ngak tahu”

“Kakak tau angin kan? Apakah kakak bisa melihat angin?”(dia mengeleng-ngelengkan kepalanya)

“Meskipun kakak tidak melihat angin, namun kakak tau itu angin bukan? Dari merasakan anginnya, atau dari menghirup udaranya. Tidak terlihat namun Ada” (dia mulai mengangukkan kepalanya)

“Allah pun sama, Kita tidak bisa melihat Allah, namun kita tetap bisa merasakan sifat-sifatnya Allah yakni Allah itu ada (Wujud). Dan di sinilah (sambil menunjuk hati) kita bisa menyakini bahwa Allah itu ada di mana-mana termasuk di dalam hati kita).

Akhirnya pertanyaan kritis itupun terhenti dan sempat deg-deg-an juga kalau muncul pertanyaan lainnya.

Meskipun aku yakin dia juga tidak begitu mengerti apa yang aku ucapkan, setidaknya kita memberikan jawaban yang baik dan positif agar terekam dalam memorinya dan suatu saat akan terbuka sendiri dan muncul benih-benih yang baik.

Dari sinilah aku memahami bahwa belajar mengaji (agama) itu penting. Selain untuk diri sendiri dalam menjalani kehidupan ini, juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis semacam ini.

Jadi kesimpulannya, carilah jodoh pasangan yang mau belajar mengaji. Agar suatu saat nanti bisa jadi madrasah yang baik bagi anak-anak kita nanti.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar