orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Lembur Yang Tak Dirindukan

Lembur Yang Tak Dirindukan
Source : unsplash.com
Di dalam dunia industri jika proses produksi tidak bisa mencapai sebuah target order yang diplaningkan, maka harus ada penambahan jam kerja untuk bisa menutupi kekurangan target. Lembur atau bahasa kerennya Overtime merupakan istilah yang digunakan untuk menamai tambahan jam kerja dalam dunia Industri.

Suka atau tidak, semua kayawan harus melakukan jam tambahan kerja atau overtime agar terpenuhi target planning. Ada sebagian karyawan begitu senang dan ada juga yang merasa kesal.

Senangnya, jika ada penambahan jam kerja, berarti ada tambahan uang jajan menanti di hari gajian. Kesalnya jika overtime tersebut harus mengganggu urusan lain yang sudah kita rencanakan sebelumnya.

Lain ceritanya kalau overtime atau lembur kerja itu melebihi batasan yang diinginkan karyawan sebagai manusia yang mempunyai lelah dan penat. Standartnya karyawan melakukan pekerjaan selama 8 jam kerja dalam 5 hari selama seminggu. Sedangkan fenomena overtime ini melebihi yang diharapkan sebagian karyawan, mereka harus menjalani kerja diluar kebiasaan yaitu 10 jam perhari bahkan ada yang sampai 12 jam – 14 jam sehari hanya untuk memenuhi target poduksi yang meningkat.

Serta yang biasanya kerja 5 hari seminggu menjadi 7 hari seminggu alias tidak ada libur dalam seminggu ini. Kesalnya kejadian ini bisa belarut-larut hingga sebulan penuh. Tidak ada libur dong sebulan ini?

Nah hal ini yang aku alami di hari menjelang Ramadhan tahun ini. Alasan perusahaan melakukan overtime tersebut juga bisa dibilang bagus dan mulia. Alasannya tak lain hanya agar para karyawan disaat bulan ramadhan tidak harus kerja overtime untuk memenuhi tingginya target produksi.

Semua target tersebut sudah masuk dalam buffer stock yang sudah dikejar dengan lembur sebelum hari Ramadhan tiba.

Lembur Yang Tak Dirindukan
Source : unsplash.com
Lembur Yang Tidak Dirindukan
Iya kata itulah yang tepat untuk mengambarkan perasaanku dalam mengilustrasikan keluh kesah hati tentang overtime yang kita lakukan tiap harinya.

Memang tidak begitu extreme lembur yang diiberlakukan di bagian pekerjaanku. Diline lain malah ada yang diwajibkan tiap hari lembur sampai 2 jam-4jam, sedangkan di bagianku hanya 2 jam perhari dan tidak pernah lebih dari itu.

Di bagian tempatku bekerja, kebanyakan didominasi oleh karyawan single. Mungkin karena alasan itu pula sering banyak pemberontakan disaat ada pengumuman lembur. Apalagi lembur dilakukan hari sabtu atau minggu.

Weekend adalah hari yang dinanti bagi para pemuda untuk bersenang-senang. Sedangkan bagi para bapak-bapak sepertiku, weekend adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Jadi karena alasan itu pula aku dan yang lainnya kadang tidak rela menjual waktu istirahat untuk kembali bekerja.

Kalau hanya hari Sabtu saja mungkin kita bisa memakluminya karena masih ada hari minggu untuk bisa menaruh penat yang berhari-hari terpendam di kepala. Kalau hari minggu ada jadwal masuk lembur, itu yang memberatkan.

Masing-masing dari kita sudah menyiapkan alasan sempurna untuk bisa menolak tawaran lembur tersebut. Dan tak jarang dari kami absen tanpa izin saat ada lembur tiba.

Karena pemberontakan tersebut, maka pihak staf memberlakukan kebijakan lembur wajib yang ditulis di sebuah form pernyataan kesediaan untuk lembur disertai tanda tangan karyawan.

Jika kita sudah tanda tangan form tersebut, maka kita diwajibkan untuk masuk lembur. Jika kita mengingkarinya atau tidak masuk kerja dengan alasan apapun, maka besoknya kita akan dihadapkan langsung ke HRD untuk membicarakan tentang alasan kenapa tidak masuk padahal sudah tanda tangan form.

Begitu juga disaat Form tesebut disodorkan ke karyawan tapi kita menolak untuk tanda tangan, tetap saja kita akan dihadapkan dengan beberapa pertanyaan tentang kenapa sampai tidak ingin lembur dan sebagainya.

Sebenarnya bukan karena alasan yang tepat untuk bisa menolak form kesediaan kerja lembur tersebut. Semua alasan akan jadi tidak berguna ketika dalam pengajuan malah terdapat beberapa karyawan yang sama-sama meminta izin untuk tidak ikut lembur.

Biasanya yang izin duluan berarti dia yang dapat izin tidak masuk. Yang belakangan biasanya dipersulit bahkan tidak dapat izin.

Sebenarnya sistemnya form tersebut cukup simple, yang penting dalam satu bagian ada yang membackup itu sudah cukup bagi yang lainnya untuk tidak masuk. Tapi berbeda kalo tingkatan lembur dalam tahap urgent order. Mau tidak mau harus masuk semua.

Terkadang yang namanya manusia juga ada kepentingan mendesak yang tak terduga dan juga keterbatasan daya tahan tubuh yang menuntut untuk istirahat. Alasan seperti itulah yang membuatku enggan untuk melakukan kerja lembur di hari sabtu dan minggu.

Jika lembur tidak dilakukan se-extreme yang mengharuskan karyawan kerja selama seminggu full. Mungkin kita (aku dan teman teman lainnya) masih bisa menyikapi hal tersebut dengan senang dengan harapan mendapat tambahan uang jajan di penghujung hari gajian.

Tapi disaat lembur yang tak mengizinkan ada liburan dalam dua minggu bahkan bisa satu bulan. Tak salah kalau kita berkeluh kesah bawa lembur seperti ini tidak dirindukan walaupun ada balasan gaji yang setimpal untuk itu.

Bagiku, waktu itu tidak bisa dibeli dengan uang. Uang tak selalu bisa membeli sebuah kebahagiaan, akan tetapi tanpa uang untuk mencapai bahagia juga sulit diwujudkan.

Bukan berarti aku tak menghargai rezeki yang telah diberikan. Dan juga bukan tak bersyukur akan terkabulnya doa yang telah aku panjatkan. Aku hanya mencoba menyikapi sebuah keputusan diri.

Tekadang ketika izin tidak ikut lembur ditolak berarti memang itulah rezeki yang telah diberikan kepada ku dan aku mensyukuri akan hal itu. Sebaliknya ketika izin disetujui, disaat seperti itu aku lebih bersyukur, bukan berarti aku menolak rezeki tapi insyaAllah ada Rezeki lain yang lebih bermanfaat bagi aku.

Bagiku rezeki bukan berarti berupa uang saja, nikmat sehat juga rezeki yang lebih berharga dari pada uang. Berkumpul dengan keluarga juga termasuk rezeki juga. Karena tidak sedikit orang yang seakan sulit untuk berkumpul dengan keluarganya walaupun dalam tinggal dalam satu kota yang sama.

Artikel ini aku buat bukan untuk membuat jadi contoh buruk bagi karyawan lain. Cuma ini adalah ungkapan kata hati kami (aku dan teman-teman) dalam menyikapi fenomena overtime.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar