orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Bersyukurlah Saat Kita Diberi Kesehatan

Bersyukurlah Saat Kita Diberi Kesehatan
Source : pinterest.com
Nikmat sehat merupakan nikmat yang paling sering kita (aku) lupa untuk mensyukurinya. Kita terlalu fokus akan hal yang menurut kita tidak baik, sebut saja saat kehilangan pekerjaan atau dirumahkan selama beberapa minggu karena anjloknya produksi di tempat kita bekerja.

Padahal dari sekian hal buruk itu, kita masih diberi nikmat yang tak bisa dinilai dari banyaknya uang yang kita miliki, yakni nikmat sehat. Ketika kita sedang sakit, seberapa enak makanan di depan kita, tetap tidak akan mengalahkan saat menikmatinya dalam keadaan sehat.

Begitupun dengan banyaknya uang yang kita miliki, disaat kita sedang sakit, uang tersebut juga tidak akan memberikan sebuah kebahagiaan bagi kita. Justru uang tersebut lama kelamaan akan sirna seiring digunakan untuk berobat.

Saat istirahat tadi siang, aku mendengar kabar dari salah satu rekan kerja yang terakhir kali aku jenguk di rumah sakit 2 minggu yang lalu. Disaat aku menjenguknya, keadaan dia masih sedikit membaik walaupun kondisi badannya kurus kering seperti itu. Setidaknya dia masih bisa tersenyum dan menyapa kita dengan menjabat tangan kami semua.

Tapi kabar kali ini justru membuatku merasa iba ketika mendengar kabar buruk tentangnya. Dia terkena penyakit langka bernama GBS (Guillain Barre Syndrome) begitulah yang dikatakan dokter.

Dari artikel yang aku baca dari doktersehat.com, mengatakan bahwa Guillain Barre Syndrome (GBS) adalah gangguan dimana sistem kekebalan tubuh menyerang saraf. Penyakit ini timbul dari pembengkakan syaraf peripheral, sehingga mengakibatkan tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan gerakan yang dapat diterima oleh otot yang terserang.

Singkatnya, penyakit ini membuat tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali alias lumpuh. Kata salah satu teman baiknya, hanya bagian kepala saja yang bisa digerakkan sedangkan dari sekujur tubuh mulai dari bahu, tangan, pinggul dan kaki tidak bisa digerakkan sama sekali.

Aku serasa tertampar mendengar kabar buruk itu.

Aku jadi teringat masa ketika aku mengalami sakit 3 tahun silam. Dimana aku tidak bisa makan dengan semestinya, kadang aku harus disuapi juga. Pergi ke kamar mandi kadang juga diantar dan beberapa kali menendang dan menjatuhkan barang tanpa sengaja, bahkan tanpa sengaja aku menabarak anakku sendiri yang masih merangkak kala itu.

Yang paling menyesakkan disaat mendengar beberapa kali Ibu, bapak dan istri menangisi keadaan diriku, Disitulah penyesalanku yang paling dalam saat mendengar orang yang paling aku cintai didunia ini menangis karena aku.

Aku sadar bahwa disaat kita mengalami sakit, yang paling masuk akal adalah dengan tetap bersabar dan menyakini semua ini adalah ujian bagi kita. Rasanya juga tak pastas untuk menyebutnya sebagai “ujian” dikala kita masih sangat lalim bagi diri sendiri sebagai makhluk Tuhan.

Bahkan aku rela menyebutnya sebuah karma atas perbuatanku disaat aku masih sehat dahulu, Aku yakin disetiap kita menanam kita akan menuai hasilnya. Dan aku yakin saat itu adalah hasil dari perbuatan burukku. Entah itu dari yang tidak aku sengaja, maupun aku yang berpura-pura tak sengaja saat melakukannya.

Aku menerimanya dengan hati yang lapang meskipun dalam hati aku sangat kesakitan dan berharap agar segera disembuhkan. Tapi apa dayaku untuk memutuskan pulih atau tidaknya diriku. Yang aku tahu, hanya kepadaNya lah aku menyerahkan semua takdirku ini.

Disaat aku sudah menenangkan hati dan berserah atas nasib yang aku alami. Disaat itulah timbul dilema dalam hatiku. Aku yang tidak bisa menafkahi istri dan bisanya hanya merepotkan orang disekitarku, disaat itulah hal yang paling menyakiti aku ketimbang penyakitku itu sendiri.

Serasa aku menjadi orang yang tak berguna dan menjadi beban dalam keluargaku. Bukan penyakit itu yang membuatku bersedih, tapi beban mental disaat aku tidak bisa melakukan apa-apa itulah yang terus menghantuiku.

Nikmat sehat merupakan nikmat yang paling sering kita (aku) lupa untuk mensyukurinya. Kita terlalu fokus akan hal yang menurut kita tidak baik, sebut saja saat kehilangan pekerjaan atau dirumahkan selama beberapa minggu karena anjloknya produksi di tempat kita bekerja.
Source : unsplash.com
Hidup ini terasa jauh semakin berat seakan tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan hidup. Tapi keluargaku dan istriku yang menguatkanku dan memberi harapan bahwa pasti akan ada kesembuhan, pasti disetiap penyakit akan ada obat penawarnya.

Yah cinta lah yang bisa menguatkanku untuk tetap bertahan dan bersabar. Dan doa penuh cinta juga yang bisa memulihkan diriku lebih cepat dari yang aku bayangkan.

Mungkin temanku juga akan mengalami hal serupa seperti yang pernah aku rasakan sebelumnya. Dan semoga di tengah ujian melanda ini, dia tetap diberi kesabaran dan keikhlasan hati dalam menjalani tiap harinya. Terutama besarnya kasih dan sayang dari keluarganya sangat penting untuk menguatkan dirinya.

Dan semoga temanku itu diberi kesehatan dan pulih kembali dengan segera, sama sepertiku yang mendapat sebuah keajaiban berupa kesembuhan dan kehidupan kedua yang bertepatan hari nan suci di bulan Ramadhan.

Dan seperti yang dijelaskan di doktersehat.com, bahwa penyakit GBS ini bisa membaik dalam waktu 3 smpai 6 bulan, semoga seperti itu. Mungkin memang berat untuk saat ini, tapi percayalah, pasti akan ada hikmah dibalik cobaan dan ujian yang kita alami.

Kadang kita memang butuh cambuk agar senantiasa ingat akan karunia sehat yang kita miliki saat ini. Sehat adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, dan seharusnya kita selalu mensyukurinya dengan semestinya.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya
Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar