orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Pentingnya Komunikasi Mengenai Keuangan Keluarga

Pentingnya Komunikasi Mengenai Keuangan Keluarga
Source : unsplash.com
Ketahuilah, permasalahan ekonomi ini adalah tiang dalam kesejahteraan rumah tangga. Maka, keterbukaan adalah penawarnya. Bahkan suami boros sekalipun mungkin masih lebih baik dibanding suami hemat tapi tidak terbuka. Dalam catatan suami boros tersebut terbuka tentang keuangannya.
Aswinda - Shezahome.com
Setuju banget bahwa keuangan adalah hal paling sensitif dalam kehidupan rumah tangga, terutama bagi yang baru-baru menikah. Banyak loh kejadian perpisahan yang awalnya dipicu oleh masalah financial ini.

Bukan soal pendapatan yang lebih kecil dari pengeluaran yang menyebabkan sebuah perpisahan, namun lebih halus lagi permasalahannya. Seperti yang diutarakan oleh mbak Aswinda soal keterbukaan finansial di artikelnya “Bedakan Antara Suami Pelit Dan Suami Hemat”.

Aku baca artikelnya serasa membaca pengalaman pribadi. Bukan menyoal pelitnya aku sebagai seorang suami, percayalah bahwa aku loyal banget sama istri hahaha.

Tapi lebih kepada permasalahan yang kebanyakan istri hadapi mengenahi persoalan keuangan rumah tangga.

Dihadapkan dengan berbagai kebutuhan sehari-hari, tagihan bulanan, belum lagi keperluan anak balita dan keperluan sekolah anak. Secara perhitungan sih pendapatanku (gaji) tidak akan cukup untuk mencukupi semua kebutuhan itu. Namun harus dicukup-cukup kan bukan? Begitu pikiran pendekku.

Nah disitulah aku tertampar oleh kata-kata ini “Memiliki suami yang tak paham dengan pengeluaran rumah tangga itu adalah cobaan sejuta wanita”.

Aku pernah berada dalam posisi itu. Suami yang terlalu mempercayakan semua kepada istri, tapi tak mau tahu bagaimana prosesnya terjadi. Jahat banget yak.

#Terlalu Mempercayakan Semua Kebutuhan

Pentingnya Komunikasi Mengenai Keuangan Keluarga
Source : unsplash.com
Dulu aku pernah berpikir bahwa dengan keterbukaan masalah financial dengan istri itu sudah cukup. Namun aku rasa untuk sekarang ini, terbuka dan percaya saja tidak bisa membuat kita sama-sama bahagia. Akan ada beban yang akan dipikul sendirian oleh pasangan kita.

Mungkin benar bahwa buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Tanpa bertanya, cara yang aku pakai dalam berumah tangga hampir mirip dengan cara yang dipakai Bapakku. Mungkin itu yang jadi bukti kongkrit bahwa aku anak asli dari bapakku, hahaha 😃😃

Cara yang aku pakai dulu yaitu dengan memberikan semua gaji kepada istri (setelah dipotong kebutuhan harianku) tanpa harus tau menahu bagaimana prosesnya terjadi. Di situlah kesalahanku waktu itu.

Bapakku menggunakan cara seperti itu dan berhasil, mungkin karena hubungan mereka (bapak dan Ibu) adalah long distance marriage. Butuh yang namanya percaya sepenuhnya kepada istri, soalnya bapak juga bisa bertemu dengan ibu sebulan bahkan dua bulan sekali.

Sedangkan kasusku jauh berbeda. Aku dan istri selalu bertemu setiap harinya. Jadi jika aku mempercayakan sepenuhnya tanggung jawab keuangan, rasanya kok tidak adil juga.

Awal-awal menikah dulu sih keadaan financial kita tak menemui masalah berarti. Mungkin karena kita menikah berawal dari cinlok di perusahaan yang sama. Jadi kita sama-sama tahu besaran pendapatan kita masing-masing.

Permasalahannya hadir ketika istri memutuskan untuk resign. Permasalahan yang tadinya tidak terlihat, kini terkuak saat financial mengalami kode orange.

Aku rasa bukan tentang nominal pendapatan keluarga yang jadi masalahnya. Namun perihal sudut pandang yang berbeda tentang cara mengolah keuangan. Antara aku yang terlalu mempercayakan tanpa memperdulikan, sedangkan istri ingin aku ikut andil dalam sebuah perencanaan.

Banyak masalah yang terjadi saat itu. Dan aku akui itu semua kesalahanku. Disitulah uniknya kehidupan berkeluarga. Kita akan berkembang dan mendewasa saat ada permasalahan yang datang. Jadi jangan kaget yah yang baru menikah.

#Menikah Berarti Satu Tujuan Yang Sama

Pentingnya Komunikasi Mengenai Keuangan Keluarga
Source : islampos.com
Bagaimana mencapai tujuan yang sama jika memiliki dua sudut pandang yang berbeda? Caranya dengan membicarakannya.

Menikah itu harusnya menyatukan dua hati dan dua pikiran menjadi satu. Jadi bukan hanya dengan mempercayakan saja namun harus dengan mengusahakan juga.

Mengusahakan ini bukan berarti hanya tentang usaha kita (suami) mencarikan nafkah. Namun ikut andil dalam mengambil keputusan bersama untuk sebuah perencanaan financial keluarga. Minimal kita mengetahui detail kecil pengeluaran rumah tangga.

Seandainya ada kekurangan untuk kebutuhan ke depannya, kita bisa sama-sama mengupayakan agar kekurangan itu bisa tertutupi. Entah itu dengan berhemat atau dengan mengupayakan cara lainnya.

Nah enaknya kalau sama-sama mengerti kebutuhan rumah tangga, kita bisa merencanakan mimpi sama-sama. Karena menikah tuh harusnya meraih mimpi berdua.

Jadi perlu yang namanya keterbukaan masalah pendapatan, saling percaya, dan ikut andil dalam perencanaan keuangan keluarga. Dan poin pentingnya, seperti kata mbak Aswinda bahwa “komunikasi dalam keluarga itu koentji”.

Bukan hanya soal keuangan saja, melainkan komunikasi merupakan kunci dalam setiap aspek dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar