orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Mengeja Bahagia - Kamulah Bahagiaku Yang Sebenarnya

Mengeja bahagia
Masih ingatkah engkau bahwa telaga ini telah menjadi saksi bisu perjalanan takdir kita berdua. Yah waktu itu adalah moment untuk pertama kalinya kamu menerima diriku sebagai calon pendamping hidupmu.

Entah sudah beberapa kali engkau menolakku perihal jadi pasangan hidup. Aku tahu, aku bukanlah typikal orang yang kamu sukai sejak awal. Mulai dari kebiasaan merokok, sifat egois dan ketidakpekaanku yang selalu membuatmu jengah.

Namun rasa ini terus saja menggerogotiku lebih dalam. Aku membencimu karena mengabaikanku, tapi aku tetap menyayangimu lebih dari rasa benciku. Aku hanya ingin sekedar menjagamu agar tetap bahagia, walaupun itu bukan denganku.

Garis takdir ini menyatukan kita berdua. Kita yang sama-sama terluka akan cinta dan berjuang untuk memperbaiki diri tanpa sebuah ikatan. Kita sudah jarang saling bertatap muka, bahkan untuk mengobrol seperti biasanya pun kita hindari sebisa mungkin.

Entah kenapa waktu dhuha adalah waktu terbaik untuk kita bertemu. Yah, kita selalu berada di dhuha yang sama. Mungkin kita sama-sama berdoa, tapi bukan untuk kedekatan kita. Aku yakin kita tidak menginginkan kedekatan kita berlanjut seperti sedia kala. Karena aku dan kamu, sama-sama tidak menyebut nama dalam doa masing-masing.

Janji terakhirku kepadamu yang membuat kita mulai menyatu. Janji yang gagal terlaksana saat di jogja waktu itu, kini aku coba untuk menebusnya agar aku tidak berhutang kepadamu. Dengan memenuhi janji itu, aku baru menyadari kalau kamu sedang menjalani kesendirian waktu itu.

Antara senang, lega dan takut bercampur menjadi satu. Aku senang melihat kamu bahagia dan tidak terlihat keraguan lagi di matamu. Aku juga lega kamu bisa lepas dari orang yang seharusnya sudah lama kau buang. Tapi aku takut untuk kembali masuk ke dalam kehidupanmu, bahkan aku takut berharap lebih dengan hubungan baik kita selama ini.
 

Bagiku, melihatmu bahagia itu sudah cukup. Tapi di setiap kamu dekat dengan laki-laki lain, entah kenapa ada rasa cemburu yang bergejolak dalam hatiku. Rasanya aku tidak rela. Aku ingin sekali membawamu pergi jauh dari orang-orang itu. Aku ingin membawamu dari rasa terluka, padahal aku sendiri adalah luka itu.

Aku memang egois. Disaat aku menginginkanmu untuk jauh dari orang lain, justru aku yang terus mendekati wanita lain selain dirimu. Tapi aku senang dengan rasa cemburumu itu. Aku merasa kita sudah mulai merasakan alur cinta yang sama dan semoga itu terwujud menjadi bahagia.

Hari demi hari kedekatan kita kembali seperti sedia kala. Kita saling canda dan tertawa, seakan kita sudah lupa rasa terluka dan sakit hati yang pernah kita rasa bersama. Beberapa kali kita juga sempat makan bersama, walaupun tidak berdua, tapi bersama sahabat-sahabat kita.

Aku ingat engkau sendiri yang mengajakku ke sebuah telaga dekat rumahmu itu. Berdalih engkau ingin belajar berenang, kamu mengajak ponakanmu untuk menemani kebersamaan kita berdua. Yah, aku sibuk mengurusi ponakanmu mencari ikan kecil di pinggiran telaga, sementara kamu sibuk menertawakanku dari kejauhan.

Gila, aku mulai jatuh cinta kembali melihat senyummu kala itu. Ada debaran aneh di dada ini yang kembali aku rasakan setelah kian lama menghilang ditelan rasa terluka. Aku mendekatimu setelah kau usai semua pelajaran renangmu. Hanya aku dan kamu, saling bertatap disejuknya angin di telaga itu.

Izinkan aku untuk mendampingimu menjalani setiap langkahmu. Mau kah kau menjadi Istriku? Kata sederhana itu aku ucapkan tanpa perencanaan dan tanpa kekuatiran untuk ditolak lagi. Mungkin aku sudah kebal dengan penolakanmu, dan aku tidak peduli dengan hasil apapun yang akan aku dapati dari jawabanmu. Yang aku tau, aku mencintaimu dan itu tulus dari dalam hatiku.

Aku sangat bahagia sesaat kau mengangguk malu-malu dengan senyum penuh bahagia. Aku mencoba mengeja arti bahagia dari jawaban malu-malumu itu. Aku tau kamu juga akan terkejut dengan ucapanku yang tiba-tiba itu. Tapi harusnya aku yang lebih terkejut dengan jawabanmu yang mungkin akan merubah perjalanan hidupku.

Memaknahi Bahagia mengeja bahagia
Source : unsplash.com
Masih ingatkah engkau dengan pesta pernikahan kita. Pesta yang sederhana dengan mengundang teman-teman terdekat kita untuk berbagi kebahagiaan yang kita rasa. Aku dan kamu berada dalam kursi pelaminan yang sama. Aku dan kamu menjadi “Kita” untuk berbahagia bersama.

Ending yang bahagia? Aku rasa tidak seperti itu keadaannya. Aku melihat banyak tangis saat kita berada di pelaminan. Entah mereka sedih dengan anaknya yang akan meninggalkannya atau mereka senang dengan anaknya yang semakin dewasa, hingga keluar air mata bahagia.

Menikahimu berarti aku juga akan menikahi semua kebiasaanmu, menikahi keluargamu dan menikahi segala sesuatu tentangmu. Aku terlalu percaya diri bisa menyatukan dua adat yang berbeda, dua kebiasaan yang berbeda dan dua kepribadian yang berbeda.

Aku terlalu naif saat aku bilang “aku akan membuatmu bahagia”. Nyatanya sedikitpun aku tidak mengenal siapa dirimu yang seutuhnya. Aku terlalu egois dengan semua janji yang terlajur aku rangkai untuk membuatmu lebih bahagia dari sebelumnya. Nyatanya aku lah yang lebih sering melukaimu ketimbang membahagiakanmu.

Kamulah satu-satunya orang yang mengajariku bagaimana memaknahi arti bahagia yang sebenarnya. Tangis bukan berarti kita tidak bahagia, karena harus ada tangis untuk bisa mengerti arti bahagia. Harus ada tangis untuk bisa menghargai arti bahagia. Dan harus ada tangis untuk bisa membuka jalan bahagia untuk bersama.

Namun untuk menjalani sebuah pernikahan memang tidaklah semudah buku panduannya. Bahkan aku tidak ingat ada buku panduan tentang menjalani kehidupan rumah tangga. Bagiku, pernikahan itu seperti masuk ke dalam hutan rimba. Kita tidak tau arah mana yang harus dipilih. Yang aku tahu, aku harus tetap berjalan dan terus hidup untuk mempertahankan ikatan suci ini.

Aku dan Kamu adalah sepasang pengantin baru yang cukup polos dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Kita sama-sama diterpa banyak ujian dan cobaan sesaat mau melangkah. Aku bersyukur dengan ketegaranmu dan kesabaranmu menghadapi semua itu.

Izinkanlah aku belajar untuk membahagiakanmu dengan caraku. Aku tidak peduli apa kata orang lain tentang hubungan kita, aku juga tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang kita. Yang penting kamu bahagia itu udah cukup. Karena bahagiamu adalah bahagiaku juga.
 

Bersamamu aku belajar cara mengeja arti bahagia di kehidupan ini. Bersamamu aku juga belajar bagaimana mengambil hikmah dari setiap luka yang kita alami berdua. Aku yakin Tuhan memberikan ujian kepada mahkluknya tak akan melampaui batasannya. Jadi bersabarlah wahai istriku.

Aku akan berusaha untuk tetap berjuang untuk kebahagianmu, kebahagiaan kita. Tentu tetap dengan berpegang teguh di jalan Tuhanku. Aku ingin menikmati setiap lika-liku kehidupanku bersamamu.

Hari bahagia itu akhirnya datang juga. Seseorang yang akan memamgggil kita dengan sebutan Ayah dan Bunda akan segera terlahir. Perasaanku campur aduk saat itu. Aku takut kamu kenapa-napa, dilain pihak aku juga sangat menantikan anak kita lahir dengan sehat. Dan parahnya, aku takut dengan banyak darah.

Aku tidak mempermasalahkan bayi kita nantinya berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Bagiku, anak laki-laki dan perempuan itu sama, asalkan anak kita terlahir sehat dan engkau juga selamat. Tak ada yang lebih membahagiakan dari itu semua.

Gadisku yang cantik jelita terlahir di dunia ini. Aku senang karena anakku yang lebih mirip dengan ibunya. Cukuplah aku menambahkan namaku di tengah-tengah nama anakku, agar nantinya anakku akan ingat kalau Ayahnya juga sangat menyanyanginya.

Itu juga berlaku untuk anak keduaku. Aku sangat menyayangi kalian bertiga, Istri dan kedua anakku. Kalian adalah duniaku, kalian juga penyemangat hidupku. Dan karena kalian juga, aku akan terus bertahan di garis depan untuk memperjuangkan keluarga kecil kita.

Aku sangat bahagia tentang takdirku mempunyai istri sepertimu hingga sekarang. Bagiku, bahagia itu sederhana. Sesederhana saat kau tersenyum padaku dan aku mensyukuri tentang hal itu. Love You.

#MengejaBahagia #MemaknahiBahagia

Note : Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam project kolaborasi giveaway #MengejaBahagia by Slamet Parmanto dan Rifa Roazah

#Menuju Bahagia dan Melampauiya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar