orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengurangi Rezeki Keluarga

Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengurangi Rezeki Keluarga
Source : unsplash.com
Istri bekerja di zaman sekarang merupakan hal yang lumrah. Walaupun sebagai orang juga beranggapan bahwa membiarkan istri bekerja disaat suaminya juga bekerja itu bisa mempengaruhi keharmonisan keluarga.

Aku sih kurang sependapat dengan hal itu. Bagiku keharmonisan keluarga itu tergantung dari bagaimana suami dan istri saling berkomunikasi. Mau itu istri bekerja maupun tidak, setidaknya ada tanggung jawab yang harus dipikul oleh keduanya. Bukan salah satunya loh.

Jadi harus ada dua orang yang sama-sama bekerja sama dalam membangun bahtera rumah tangga menjadi lebih harmonis. Jadi perihal istri bekerja atau tidak, jika keduanya bisa saling memahami dan mengerti, insyaAllah tidak ada masalah dalam keharmonisan keluarga.

Jika Istri Tidak Bekerja Ekonomi Keluarga Menurun


Benarkah istri tidak bekerja dapat mempengaruhi ekonomi keluarga?

Logikanya sih iya. Dengan dua orang yang bekerja tentu hasilnya lebih banyak dari pada satu orang saja. Namun perhitungan rezeki bukanlah seperti itu adanya. Tidaklah benar menggunakan rumus 1+1=2 untuk perihal rezeki keluarga. Bisa jadi 1+1=1.

Aku sendiri pernah punya pengalaman bahwa istri tidak bekerja maupun istri bekerja, rezeki yang aku dapatkan untuk keluarga juga tetap sama. Bukan perihal perhitungan, namun lebih kepada pemenuhan pengeluaran keluarga tiap bulannya.

Dulu aku dan istri sama-sama bekerja di salah satu perusahaan yang sama sebelum menikah. Rencananya, istri akan resign setelah kita menikah nantinya.Namun terkadang perencanaan tidak sesuai kenyataan.

Setelah kita menikah, istri memutuskan untuk tetap bekerja lantaran dia masih melanjutkan kuliah. Dia merasa kasian jika melihatku harus bekerja sendiri dan menanggung beban biaya keluarga dan biaya kuliahnya sendirian.

Genap satu tahun menikah kami mempunyai momongan. Satu setengah tahun kemudian, istri juga lulus kuliah. Kami ingin mewujudkan rencana sebelum nikah dulu, yakni istri resign dari perusahaan dan menjadi full time ibu rumah tangga.

Rencana tersebut akhirnya terwujud setelah istri melahirkan anak kedua kami. Dengan alasan tersebut, istri mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan secara diam-diam.

Alih-alih senyap, justru kabar angin tentang resignnya istri sangat cepat tersebar dikalangan teman-teman kerja. Akhirnya aku yang mendapat banyak pertanyaan soal alasan resignnya istriku ini.

Kenapa istrimu resign?

Kenapa resign, Bukannya enakkan kerja berdua?

Kenapa harus resign? apa tidak bosan di rumah entar, kan udah biasa bekerja

Aku mah tidak ambil pusing dari berbagai pertanyaan yang dilontarkan kepadaku. Aku hanya bisa jawab “tidak tahu” sambil senyum manis sebisaku.

Tapi kan kalau istrimu tidak bekerja, penghasilan keluarga akan berkurang. Apalagi sekarang biaya sekolah mahal banget loh?

Sempat kesal sih saat mendapat pertanyaan semacam itu. Aku akui saat istri bekerja, pendapatan kita memang cukup besar dan mampu memenuhi pengeluaran keluarga. Bahkan kita bisa menabung dengan nominal yang lumayan besar tiap bulannya.

Namun bukan berarti saat istri resign, kehidupanku berubah drastis. Pada kenyataannya perkonomian kita tetap sama kok. Kita masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga, meskipun untuk tabungan tidak bisa sebesar sebelumnya.
Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengurangi Rezeki Keluarga
Source : unsplash.com
Dalam kehidupan berkeluarga sangat perlu yang namanya musyawarah dalam mengambil keputusan yang penting. Keputusan resign itu bukan keputusan yang kami ambil terburu buru. Karena sejak awal, aku dan istri sudah merencanakan hal ini, bahkan sebelum kita menikah dulu.

Menurutku alasan kebanyakan istri memutuskan untuk bekerja adalah untuk karirnya. Selain itu dengan istri bekerja, mereka berpendapatan agar bisa membeli sesuatu tanpa harus meminta kepada suami. Terutama untuk suami yang memiliki penghasilan yang standart (upah UMR misalnya).

Banyak di antara teman-teman istri (wanita) yang menyayangkan atas resignnya istriku. Mereka hanya memaparkan alasannya dalam segi financial saja. Padahal mereka sendiri adalah seorang istri. Harusnya mereka juga sadar beratnya tanggung jawab menjadi ibu rumah tangga selepas dari financial itu sendiri.

Istriku menyadari keputusan resign adalah keputusan yang tepat. Jika sebelumnya aku dan istri sama-sama bekerja, sementara anak di rumah dijaga oleh ibuku yang kebetulan tidak bekerja. Tapi jika setelah istriku melahirkan anak kedua, apa harus dikasihkan ke orang tua lagi?

Tentu saja tidak. Sudah cukup aku merepoti orang tuaku yang sudah membesarkanku hingga menjadi dewasa seperti sekarang. Walaupun orang tua bilang “tidak apa apa” dalam menjaga kedua anak kami. Tapi apa itu pantas?

Sedikit banyak inilah alasan kenapa aku lebih menginginkan istri untuk tidak bekerja

#1. Pendidikan Anak

Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengurangi Rezeki Keluarga
Source : unsplash.com
Ini adalah alasan yang paling utama kenapa aku ingin agar istri tidak bekerja di luar rumah.

Aku ingin istriku lah yang mendidik anak-anakku secara langsung. Aku tidak ingin ada yang lebih memberatkan hati anakku selain kepada orang tuanya sendiri, tidak terkecuali kepada nenek dan kakeknya.

Yang aku takutkan saat kita sama sama kerja, maka perhatian anak akan terpaku pada kakek dan neneknya. Dis etiap tidurnya menginginkan tidur sama neneknya, saat nangis teriak memanggil nama neneknya.

Apa kalian rela jika anak lebih memberatkan hatinya ke orang lain dari pada ke orang tuanya sendiri? Kalau aku jelas “TIDAK”

Selain itu, dengan menempatkan istri di rumah, dia akan menjadi tokoh central bagi anak dan mengajarkan apapun yang sudah kita musyawarakan berdua.

Maksudnya gini. Seandainya kita sama sama kerja, otomatis kita tidak bisa mengontrol tingkah laku anak sepenuhnya. Kebanyakan anak kecil akan meniru kebiasaan orang yang mengasuhnya.

Jadi kita tidak bisa mengontrol atau membuat karakter si anak seperti yang kita inginkan ketika harus sibuk menambah financial keluarga bersama.

Di samping itu, kita juga bisa mengontrol apa saja yang anak kita makan. Walaupun aku dan istri tidak pernah melarang untuk memakan jajanan. Tapi tidak semua jajanan itu baik kan? Tekadang aku sendiri saja tidak menyukai jajajanan yang terlalu gurih.

Kebanyakan orang tua akan melarang anaknya untuk makan sesuatu seperti permen, cokelat atau yang menurutnya tidak baik. Sama halnya aku, tapi aku sedikit memberi kebebasan untuk memilih. Tapi untuk kakek dan neneknya, biasanya mereka akan memberikan apapun yang cucu tercintanya inginkan.

Jika seandainya istri bekerja, apa karakter atau cara untuk mendidiknya akan sama seperti yang kita harapkan.

#2. Focus Menata Finansial

Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengurangi Rezeki Keluarga
Source : unsplash.com
Aku menginginkan agar istri fokus dalam menata perencanaan anggaran biaya rumah tangga. Walaupun dengan dana yang tidak begitu besar seperti saat kita sama sama bekerja.

Terkadang manusia akan menjadi lebih manusiawi (lebih pintar secara otomatis untuk bertahan hidup) disaat keadaan tidak begitu mendukung. Begitu juga istri yang juga akan menjadi lebih variatif dan mempunyai inovasi dalam menata keuangan keluarga.

Intinya dengan dana tesebut dia memikirkan teobosan-terobosan agar uang tersebut bisa cukup untuk kehidupan sebulan kedepan, syukur-syukur tetap bisa menabung tiap bulannya.

Enaknya dengan ada yang ngatur keuangan, kita sebagai suami tak perlu repot-repot untuk berfikir mengatur uang sendiri. Cukup uang gajian dikasihkan istri semua dan nunggu kita dibagi berapa untuk keperluan kita. Ketika ada pengeluaran mendadak tinggal minta istri deh, hehehe.

bagaimana jika uangnya tidak cukup untuk sebulan? Tenang, itu enaknya punya istri sepintar istriku. Karena sebelum resign kita sudah mengumpulkan uang ditabungan untuk bekal anak sekolah atau memang ada pengeluaan yang tak terduga.

#3. Keharmonisan Tetap Terjaga

Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengurangi Rezeki Keluarga
Source : unsplash.com
Aku setuju bahwa keharmonisan keluarga itu masih bisa diraih meskipun suami dan istri sama-sama bekerja. Syaratnya adalah segudang pengertian dan menjaga komunikasi antara keduanya.

Dengan istri di rumah, tingkat perhatian istri ke suami juga akan meningkat. Karena tidak semua suami dan istri seberuntung aku yang selalu bekerja dalam satu shift yang sama. Ada juga yang harus ketemu 6 jam setiap harinya karena berbeda jam kerja.

Maka dari itu, komunikasi antara suami dan istri biasanya terjaga lebih baik saat istri memutuskan tidak bekerja.

Pun juga soal jatah suami. Dengan istri di rumah, tentu dia akan lebih siap untuk melayani suaminya ketimbang dengan istri yang sama sama bekerja. Karena tingkat kelelahan membuat si wanita tidak akan menikmati hubungan yang sakral tersebut.

Dengan memikirkan beberapa alasan tersebut, aku dan istri merasa yakin dengan keputusan yang kita ambil.

Walaupun beban kehidupan semakin meningkat saat anak-anak mulai bersekolah, tapi aku yakin dengan seberapapun besar pengeluaran kami, Rezeki dari Allah akan tetap mencukupi kebutuhan hambaNya.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar