orj8T0WsT2zMsRVKHuJzQudWBEVAEUHrIOfkryw1

Mencintai Seseorang Tidak Harus Membutuhkan Alasan

Mencintai Seseorang Tidak Harus Membutuhkan Alasan
Source : unsplash.com
Cinta itu butuh alasan? Sama seperti hidup yang harus ada alasan. Barangkali akan ada banyak alasan untuk bisa mencintai seseorang. Misalnya saja tentang mencintai seseorang karena dia cantik ataupun tampan, karena dia baik, karena dia penuh perhatian dan lain sebagainya.

Bukannya wajar bagi seorang mencintai pasangannya berawal dari alasan-alasan seperti itu. Namun kalau menurutku, perasaan seperti itu lebih tepat disebut dengan menyukai. Karena cinta itu levelnya jauh lebih dalam dari perasaan suka.

Anggap saja jika cinta itu butuh alasan, kemudian di tengah perjalanan beberapa alasan yang menguatkan seseorang untuk mencintai itu hilang. Apakah cinta itu tetap bisa bertahan?

Misalnya saja kita mencintai seseorang wanita karena beberapa alasan. Dari wajahnya yang cantik, imut, mengemaskan, baik, penuh perhatian, dan memiliki suara yang sangat menyejukkan hati seperti si Nissa Sabyan.

Pada dasarnya perasaan tertarik pada lawan jenis memang berupa visualisasi panca indra, namun itu masih dalam tahap suka. Mencintai itu berada di level yang berbeda dari perasaan suka maupun ketertarikan.

Misalnya saja kita memiliki alasan mencintai seorang wanita seperti ini :
  • Saya mencintainya karena dia cantik dan imut sekali

  • Saya mencintainya karena dia baik dan penuh perhatian

  • Saya mencintainya karena suaranya yang merdu saat melantunkan sholawat seperti Nisa Sabyan

  • Saya mencintainya karena senyumnya meluluhkan hati
Namun terjadi sebuah perubahan dengan si wanita. Anggap saja si wanita ini mengalami kecelakaan. Sebagian wajah cantiknya menghilang karena bekas luka yang tak kunjung hilang. Kecantikannya juga makin tak sempurna dengan salah satu kakinya patah. Suaranya pun kini tak semerdu sebelumnya karena terlalu sering menangisi keadaan.

Jika seandainya terjadi seperti itu dan kita terlalu fokus pada “alasan” dari mencintai seseorang. Apakah bisa kita menerima si wanita itu dengan apa adanya dirinya?

Dia sudah tidak cantik lagi, dia juga tidak bisa menunjukan perhatiannya seperti dulu, bahkan suaranya tidak begitu merdu, terlebih dengan hilangnya senyum karena luka itu. Mungkin itu sudah cukup menjadi alasan kenapa aku tidak bisa mencintaimu lagi.

Jika cinta itu butuh alasan, berarti akan ada ribuan alasan untuk tidak mencintainya lagi.

# Mencintai Tanpa Syarat

Mencintai Seseorang Tidak Harus Membutuhkan Alasan
Source : unsplash.com
Setiap orang pasti memiliki tipe-tipe ideal dalam mencari pasangan hidup. Bukankah kita semua juga menginginkan pasangan yang terbaik bagi kita?

Membuat sebuah “syarat” dalam mencari pasangan hidup memang tidaklah salah. Namun jika kita terlalu mementingkan ego untuk menemukan pasangan sesuai syarat, Itu bukanlah cinta. Seperti lagunya Element “cinta tak bersyarat”.
Tak ada sedikitpun sesalku,Tlah bertahan dengan setiaku
Walau diakhir jalan, Kuharus melepaskan dirimu
Ternyata tak mampu kau melihat, Dalamnya cintaku yang hebat
Hingga ada alasan, Bagimu tuk tinggalkan setiamu oow ...
Demi nama cinta, Telah kupersembahkan hatiku hanya untukmu
Tlah kujaga kejujuran dalam setiap nafasku
Karna demi cinta, Telah kurelakan kecewaku atas ingkarmu
Sebab kumengerti cinta itu tak mesti memilik...
Andai saja bisa kau pahami, Layaknya arti cinta sejati
Karna cinta yang sungguh, Tiada akan pernah mungkin bersyarat ooh....
Cinta tak bersyarat - Element

Itu lirik lagu dalem banget, jadi baper nulisnya.

Sering kali kita menunggu orang yang benar-benar “ideal” untuk menjadi pasangan hidup. Meskipun ada banyak juga pilihan di sekitar kita yang dirasa cukup baik. Namun kita terlalu fokus pada menunggu sosok yang sempurna versi kita.

Mencari pasangan itu seperti memilih bus di jalan. Akan ada banyak bus yang berhenti dan menawarkan jasa mengantar ke tempat tujuan. Jika kita mempunyai banyak syarat untuk bus yang akan kita naiki, bisa saja kita terlambat masuk kerja hanya sekedar cari bus yang sesuai syarat.

Bisa saja kita malah tidak menemukan bus lain, tidak hanya telat kita malah tidak bisa berangkat bekerja karena hal tersebut.

Padahal tidak ada orang yang sempurna, bahkan diri kita sendiri tak akan bisa menjadi sempurna sesuai keinginan pasangan kita nantinya.

Tidak ada salahnya memiliki "persyaratan", namun tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju.

Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat. Setidaknya kita masih bisa berteriak "Kiri" dan keluar dengan sopan dan juga untuk memberi kesempatan pada yang lain untuk naik maupun duduk di kursi bus.

Semuanya bergantung pada keputusan kita. Dari pada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantor, dalam artian menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

#Menuju Bahagia dan Melampauinya

Related Posts
Ainur
Penikmat kopi dikala senja maupun dikala hujan gerimis melanda. Mencoba menyelami dunia tarik suara dan gagal, akhirnya mencoba keberuntungan di dunia tulis-menulis ala kadarnya

Related Posts

Posting Komentar